Insinyur Harus Bisa Merevitalisasi Pembangunan di Indonesia

Februari 24, 2016 oleh : BHP UMY

SAM_0016Peran Insinyur saat ini dibutuhkan dalam menghidupkan kembali pembangunan-pembangunan yang ada di Indonesia. Sejalan dengan revitalisasi insinyur tersebut, Pemerintah Indonesia menuntut peran serta Insinyur untuk bekerja dengan profesional guna meningkatkan pembagunan infrastruktur di Indonesia. Insinyur selain memiliki peran dalam revitalisasi pembangunan, juga berperan dalam merekayasa teknik dengan IPTEK untuk meningkatkan nilai tambah, daya guna, serta pelestarian demi kesejahteraan manusia. Hal tersebut diungkapkan oleh Ir. Rudianto Handojo, selaku pembicara dalam Program Pembinaan Profesi Insinyur (PPPI) dan Workshop Sertifikasi Insinyur Profesional yang diselenggarakan oleh Lembaga Konsultasi dan Pelayanan Teknik (LKPT) Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) bekerjasama dengan Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Wilayah DIY pada Rabu (24/2) bertempat di Ruang Stadium General lantai 2 Fakultas Teknik kampus terpadu UMY.

Fungsi dan peran insinyur sepenuhnya telah diatur dalam Undang-Undang No. 11 Tahun 2014 tentang Keinsinyuran. Pada UU tersebut terdapat beberapa poin penting terkait dengan peran Insinyur dalam pembangunan Indonesia. “Dengan UU ini diharapkan Keinsinyuran dapat meningkatkan daya saing bangsa dan negara dalam menggali dan memberikan nilai tambah atas berbagai potensi yang dimiliki tanah air, menjawab kebutuhan mengatasi segala kendala dan masalah dari perubahan global yang dihadapi dan selanjutnya dapat menyumbang banyak bagi kemajuan dan kemandirian bangsa,”ungkapnya.

Selain itu, peran insinyur dalam menjadikan Indonesia mandiri dan maju dibutuhkan beberapa hal, diantaranya yaitu seorang insinyur harus dapat bersaing secara global dalam bidang IPTEK. “Seorang insinyur saat ini harus turut berperan dalam kompetisi global berbasis IPTEK, guna menciptakan SDM yang berkualitas dan memiliki daya saing yang tinggi dengan insinyur-insinyur dari luar negeri,”ungkapnya.

Kembali ditambahkan Rudianto, saat ini peran insinyur di bidang industri harus ditingkatkan, untuk merangsang perkembangan penelitian dan teknologi industri di Indonesia. Selain itu, perlu adanya dorongan dalam pemutakhiran pengetahuan. “Seorang insinyur tidak hanya berperan dalam pengoperasian dan pemeliharaan perangkat keras saja, melainkan turut mengembangkan daya saing dan nilai tambah berkelanjutan dari bidang industri, serta merangsang tanggung jawab sosial keinsinyuran,”tambahnya.

Ditambahkan kembali oleh Rudianto, kebutuhan kemampuan keinsinyuran modern juga sangat dibutuhkan saat ini. “Yang diperlukan oleh insinyur modern diantaranya yaitu kerjasama multi disiplin dan multi layer, selain itu produk mini & mega-proyek perlu teknologi dan engineering dari puluhan dan ratusan sumber, yang makin kompleks dalam pemutakhiran dan pengembangannya, serta pengelolaan resiko dan akuntabilitas yang tinggi dibutuhkan oleh insinyur modern saat ini,” tambahnya.

Sementara itu diungkapkan oleh Ir. Akhmad Suraji, M.T, Ph.D, selaku ketua PII wilayah DIY, PII memiliki beberapa peran dalam kebijakan keinsinyuran, diantaranya yaitu menetapkan, menerapkan, dan menegakkan kode etik Insinyur. “PII memiliki peranan dalam hal keinsinyuran, PII berfungsi melakukan kerja sama keinsinyuran internasional dengan pengesahan PII, memberikan advokasi bagi insinyur, serta memberikan akreditasi keprofesian pada himpunan keahlian keinsinyuran (HKK),” ungkapnya.

Jazaul Ikhsan, S.T., M.T, Ph.D, selaku dekan Fakultas Teknik UMY dalam sambutannya mengungkapkan, kegiatan Program Pembinaan Profesi Insinyur dan Workshop Sertifikasi tersebut merupakan program dari LKPT UMY untuk membekali dosen dan mahasiswa Teknik UMY untuk mendapatkan sertifikasi keinsinyuran. “Sebagai lulusan insinyur yang dibutuhkan dalam dunia kerja nantinya tidak hanya ijazah dan kemampuan diri, pembekalan terkait keinsinyuran melalui sertifikasi tersebut sangat berperan penting, diharapkan dengan adanya kegiatan ini para dosen dapat mengajarkan kepada mahasiswanya terkait manfaat dari sertifikasi keinsinyuran,”tutupnya. (adam)