Industri Pangan dan Pertanian Indonesia Perlu Belajar Pada Jepang

November 21, 2014 oleh : BHP UMY
IMG_7491

Erni Johan saat menjelaskan perbedaan dan keunikan Taiyo Manngo hasil budidaya tanaman buah Mangga di Jepang

Indonesia harusnya bisa belajar dari Jepang, khususnya dalam industri pangan dan pertanian. Jepang, sekalipun merupakan negara yang alamnya kurang mendukung untuk hidup enak, lantaran berada pada zona yang sering menyebabkan negeri ini terkena gempa. Namun, mereka bisa membangun teknologi pangan dan pertaniannya sendiri. Sehingga yang semula mereka kesulitan menyediakan bahan pangan sendiri, saat ini sudah bisa menghasilkan bahan-bahan pertaniannya sendiri.

Demikian pemaparan Erni Johan, peneliti senior di Ehime University, Jepang, saat memberikan kuliah di hadapan mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (FP – UMY) angkatan 2013. Kedatangan peneliti asli Indonesia yang kini menetap di Jepang tersebut sebagai dosen tamu yang diundang oleh pihak Fakultas Pertanian UMY, untuk memberikan ilmu dan pengalaman baru pada para mahasiswanya. Kuliah dosen tamu ini diselenggarakan di gedung Mini Teater Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) UMY, Jum’at (21/11).

Dalam penjelasannya, Erni mengatakan, di Indonesia proses pascapanen baik yang dilakukan oleh individu maupun industri masih lemah. Sebab, selain karena belum didukung dengan teknologi yang canggih, cara pengolahan dan prosesnya pun masih lemah. “Padahal, hasil pertanian di Indonesia, baik itu sayuran maupun buah-buahan, ketika baru panen kondisinya masih segar. Tapi, saat sudah dipasarkan, entah itu di pasar tradisional maupun supermarket, kondisi sayur dan buah itu sudah tidak sesegar saat pertama kali dipanen,” jelasnya.

Alumnus Fakultas Pertanian UGM ini pun menceritakan jika di Jepang, proses pascapanen yang dilakukan berbeda dengan di negara-negara lain. Di Jepang, saat sayuran dan buah-buahan itu sudah dipanen, langsung dicuci menggunakan air es. “Baru setelah itu dibungkus atau dipack, untuk kemudian dipasarkan ke pasar-pasar tradisional maupun supermarket. Jadi sayur dan buah yang dipasarkan masih tetap segar selama satu hari penuh, dan hari berikutnya ,” ungkapnya.

Ia juga mencontohkan salah satu produk teknologi pertanian Jepang yang berhasil dan punya nilai jual tinggi, seperti tanaman buah Mangga. Buah Mangga Jepang ternyata memiliki banyak perbedaan dengan buah Mangga yang biasa ditemui di Indonesia. Ia mengatakan, jika Mangga yang bernama Taiyo Manggo ini hanya bisa dibudidayakan di Provinsi Miyazaki. “Namun yang unik dari Mangga ini adalah rasa manis, warna, dan jumlah buah yang ada di pohon Mangga tersebut.”

Menurutnya, satu pohon Taiyo Manggo hanya bisa menghasilkan buah tidak lebih dari 10 buah. Warna dari buah Mangga ini pun bukan berwarna hijau, namun berwarna merah dan ungu. “Ini karena rekayasa genetik dan teknologi yang mereka lakukan. Orang Jepang itu bisa membuat satu pohon hanya berbuah tidak lebih dari 10 buah. Karena menjadikan nutrisi yang awalnya misalkan untuk seratus buah, tapi hanya dijadikan untuk 10 buah. Sehingga rasa dari Taiyo Manggo ini akan menjadi sangat manis. 1 buah Taiyo Manggo ini kemudian dihargai 1000 yen, atau setara dengan 100ribu rupiah,” tuturnya.

Untuk itulah, Erni mendorong dan berharap pada mahasiswa serta orang-orang Indonesia untuk bisa membudidayakan dan memajukan pertanian di Indonesia. Sebab jika dilihat dari segi alamnya, tanah Indonesia jauh lebih subur dibandingkan dengan tanah di Jepang. “Jadi, saya di sini juga untuk memberikan dorongan pada kalian, agar semangat dalam membudidayakan dan memajukan pertanian di Indonesia,” ujarnya.

Sharing is caring!