Indonesia Butuh Pemimpin Kesatria

DSC02336Indonesia kita saat ini masih jauh dari kemerdekaan yang sebenarnya. Bangsa ini juga sedang berjalan di tempat yang salah, karena belum sesuai dengan cita-cita kemerdekaan bangsa ini. Bahkan ada pemimpin-pemimpin di negeri ini, yang juga masih belum paham kenapa kita merdeka. Untuk itulah, pemimpin yang berjiwa ksatria sangat dibutuhkan oleh negeri ini.

Demikian disampaikan Drs. HM. Idham Samawi, Bupati Bantul periode 2005-2010, saat menjadi narasumber dalam acara Kuliah Umum “Kepemimpinan dan Politik Santun”, yang diselenggarakan oleh University Residence (Unires) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Senin (20/4). Kuliah umum ini dilaksanakan di lantai dasar gedung selatan Unires Putri Kampus Terpadu UMY.

Menurut Idham, banyak pula pemimpin-pemimpin yang belum memahami konstitusi negerinya sendiri. Akibatnya, banyak yang tidak cinta dengan bangsanya sendiri. “Kalau semisal ada yang berkata ia cinta pada bangsanya, itu hanyalah retorika saja,” uajrnya.

Padahal menurutnya, pemimpin itu harus paham betul dengan ideologi bangsanya dan memiliki karakter, atau berjiwa kesatria. “Ciri bangsa yang maju itu bergelora dalam politik, berdikari dalam bidang ekonomi, serta berkepribadian dan berbudaya.”

Namun kenyataannya, Indonesia masih belum bisa melalukan tiga hal tersebut. Pemerintah belum bisa membuat kebijakan, saat tahu rakyatnya ada yang mengalami penderitaan di negera lain. “Banyak bahan pangan yang diimpor, bahkan juga garam. Padahal, negeri ini 70 persennya laut. Tapi sekarang, hampir semua garamnya diimpor. Selain itu, masyarakat sudah tidak bangga dengan budaya sendiri, tapi bangga dengan budaya luar dan ikut-ikutan budaya luar,” papar Idham lagi.

Idham menjelaskan, jiwa kesatria yang harus dimiliki oleh pemimpin itu adalah disiplin, jujur, membela yang benar, cerdas, berakhlak mulia, dan berkepribadian Indonesia. “Tugas pokok pemimpin juga sederhana sekali, yaitu membuat keputusan dan menyelesaikan masalah. Ini syaratnya kalau mau jadi pemimpin. Kalau ada pemimpin yang tidak mau melakukan dua hal itu, maka jangan jadi pemimpin,” tandasnya.

Ia juga sedikit menyinggung tentang mulai maraknya korupsi di Indonesia. Menurutnya, bukan parpolnya yang salah atau buruk. Karena sebetulnya politik di negara kesatuan ini tidak ada yang buruk. “Hampir semua platform partai itu bagus. Kalau ada orang dari partai yang melakukan korupsi, maka sebenarnya yang buruk itu orangnya. Karena tidak ada politik yang buruk,” tutupnya.

© 2013 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta | Created by Biro Sistem Informasi UMY | About the site