Hollywood Tak Lagi Tayang, Belum Jawab Rendahnya Kualitas Film Indonesia

April 29, 2011 oleh : BHP UMY

Isu dipersulitnya Film Hollywood masuk ke Indonesia menjadi perbincangan di masyarakat film di Indonesia belakangan ini. Pendapat pro kontra pun bermunculan. Salah satunya menyebut bahawa hal ini adalah salah satu upaya melindungi Film Nasional. Namun bagi pemerhati sekaligus peneliti film dari Rumah Sinema, Dyna Herlina Suwarto, dimatikannya Film Hollywood tidak akan berpengaruh besar bagi perfilman Indonesia.

Demikian Disampaikan Dyna dalam Kuliah Umum Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (IK UMY) bertajuk “Di Balik Kontroversi Film Hollywood” yang diseleggarakan Creative Event Organizer (CEO) UMY Rabu (27/4) di Ruang Sidang Gedung AR Fahrudin A Kampus Terpadu UMY.

Menurutnya, permasalah yang ada sebenarnya adalah bagaimana rendahnya pajak impor film yang tidak sebanding dengan pemberian fasilitas dalam hal produksi oleh pemerintah. Selama ini menurut Dyna, para pembuat film di Indonesia disulitkan dengan tidak tersedianya infrastruktur produksi film yang memadai. Mahalnya impor dari luar negeri menyebabkan para produser lebih memilih cara lain untuk melariskan filmya. “Akibatnya, produksi film horor yang tidak memakan biaya besar menjamur di Indonesia misalnya”, jelas Dyna.

Dyna kemudian juga mencermati permasalahan pajak-pajak tontonan yang didapatkan dari penayangan film di bioskop yang tidak secara langsung mendukung perfilman Indonesia. Dyna mencontohkan pajak tontonan Korea yang secara langsung diberikan bagi pengembangan dan produksi film. “Di Amerika, pajak tontonan langsung disalurkan untuk membangun sekolah film misalnya”, jelas Dyna.

Kualitas film yang rendah ini menurut Dyna diperparah dengan proses sensor film yang belum sesuai. Dyna menilai tidak adanya transparansi dalam proses sensor di perfilman Indonesia. Padahal menurut Dyna, banyak film Indonesia yang seharusnya perlu disensor lebih ketat. Hal lain adalah bagaimana tidak dibebankannya pemilik bioskop dalam klasifikasi penayangan film. “Pemilik bioskop menjadi santai untuk bebas menayangkan film apapun. Yang penting kan sudah lulus sensor”, tuturnya.

Dalam penjelasannya kepada mahasiswa, Dyna juga menyinggung bangkitnya perfilman beberapa Negara terutama perfilman Korea. Kebangkitan tersebut menurut Dyna tidak terlepas dari besarnya upaya pemerintah dan masyarakat film di Korea. Bahkan cerita Dyna, orang-orang Korea memasukkan ular ke bioskop yang sedang menayangkan film Hollywood.

Lebih lanjut Dyna mengharapkan pemerintah untuk lebih memperhatikan industri bayi ini. Industri ini masih perlu peran besar pemerintah dalam mengembangkannya. Terutama dalam membentuk film-film yang lebih mencerminkan wajah-wajah masyarakat Indonesia. Misalnya di Amerika, banyaknya film perang dan keamanan Negara mencermikan kondisi masyarakat di sana.