Hindari Kejahatan Hipnosis, pemudik diharapkan lakukan Afirmasi Positif

September 3, 2010 oleh : BHP UMY

Menjelang Lebaran ketika banyak orang melakukan mudik, kejahatan hipnosis menjadi tindak kriminal yang seringkali muncul. Untuk mencegah terjadinya kejahatan hipnosis yang kemungkinan bisa terjadi, para pemudik diminta menghindari kondisi terpusat. Misalnya sedang jenuh menunggu datangnya kereta. Kondisi sedang bingung akan memudahkan orang terkena hipnosis. Untuk itu diharapkan para pemudik tidak pergi sendirian atau paling tidak melakukan afirmasi positif atau pemikiran positif misalnya dengan berdoa.

Demikian disampaikan Pakar Pikiran Bawah Sadar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof. Dr. Heru Kurnianto Tjahyono di Kampus Terpadu UMY Kamis (2/9) menanggapi kasus kejahatan hipnosis yang belakangan marak terjadi.

Heru memaparkan, suasana mudik saat ini merupakan saat-saat rawan terjadi kejahatan hipnosis. “Orang mudik itu akan memiliki bermacam-macam emosi yang kuat. Misalnya terlalu senang, sedih, atau bingung. Kondisi ini merupakan kondisi yang mudah terkena hipnosis,”jelasnya.

Upaya untuk menghindari kejahatan hipnosis menurutnya bisa dilakukan dengan memahami cara kerja, melakukan afirmasi positif dengan berzikir atau berdoa. “Bisa juga dengan mengucapkan hal baik berulang-ulang, hindari kondisi terpusat misalnya ketika diajak ngobrol dengan orang yang baru kenal dan mencurigakan, jangan terlalu terpusat melihatnya maupun mencoba mengingat-ingat siapa orang tersebut. Coba ambil nafas dan lihat sekitarnya. Hal tersebut juga merupakan salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mencegah kondisi terpusat. Selain itu diusahakan tidak sendirian saat bepergian.”urainya.

Kejahatan hipnosis terjadi biasanya dengan beberapa cara, melalui menepuk pundak, dengan menatap mata korban maupun melalui penggunaan tekanan suara di telepon. “Misalnya ada telepon mendapat hadiah atau undian mobil yang seringkali terjadi. Atau telepon yang mengabarkan ada anggota keluarga yang kecelakaan atau sakit kemudian meminta uang pengobatan. Biasanya pelaku melakukan hal tersebut untuk membuka gerbang pikiran bawah sadar dengan menggunakan emosi gembira, sedih maupun menekan atau mengancam.”terangnya.

Heru memaparkan saat ini persepsi yang berkembang di masyarakat tentang hipnosis cenderung negatif dan berhubungan dengan kejahatan. “Bahkan masyarakat sulit membedakan antara praktek gendam, perdukunan dan supranatural dengan hipnosis. Pemahaman tersebut akhirnya membuat makna hipnosis semakin bercampur aduk dengan klenik dan sihir. Padahal antara hipnosis dengan gendam itu berbeda. Jika gendam itu menggunakan kekuatan di luar dirinya  yang berhubungan dengan klenik. Sedangkan hipnosis merupakan pemahaman pikiran dan penggunaan bahasa yang bisa diterima oleh pikiran.”tegasnya.

Hipnosis sendiri adalah suatu keadaan mirip tidur, relaks dan fokus. “Banyak orang yang merasakan hipnosis seperti kondisi relaksasi biasa. Namun yang sebenarnya terjadi adalah perubahan aktifitas otak dari kondisi alpha ke theta. Kondisi ini alamiah terjadi dalam diri kita saat kita akan tidur atau saat asyik menonton film, berkendara dan lainnya.”urainya.

Heru menambahkan, saat kondisi hipnosis, pikiran sadar kita akan beristirahat, critical area terbuka dan otomatis mengaktifkan pikiran bawah sadar kita. “Jadi saat melakukan hipnosis berarti terjadi proses komunikasi yang disampaikan ke dalam pikiran bawah sadar teman bicara kita.”jelasnya.

Terkait dengan pemberitaan bahwa orang latah cenderung mudah terkena hipnosis, Heru membenarkan hal terebut. Dalam penjelasannya, orang latah cenderung mudah terkena hipnosis karena mereka memiliki hipersugestibilitas. “Dimana mereka memiliki sensitifitas yang tinggi sehingga cenderung lebih mudah untuk terkena hipnosis. Sehingga bagi orang yang latah diharapkan hindari kondisi terpusat dan selalu melakukan afirmasi positif agar terhindar dari kejahatan hipnosis.”ujarnya.

Sharing is caring!