Harus Lewati Uji Kompetensi Keperawatan, Lulus Bukan Jaminan

Januari 22, 2011 oleh : BHP UMY

Keberadaan profesi perawat yang bermutu sebagai pemberi pelayanan kepada masyarakat di Indonesia saat ini menjadi sangat dibutuhkan. Oleh karena itu, di Indonesia kini diberlakukan uji kompetensi keperawatan yang diharapkan dapat meningkatkan standar kualitas perawat-perawat di Indonesia. Jumlah lulusan universitas yang semakin bertambah jumlahnya juga menjadi pendorong dibutuhkannya proses uji kompetensi ini.

Demikian disampaikan Drs. Kirnantoro,S. KM,M.KEs, Ketua Persatuan Perawat Nasional Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (PPNI DIY) dalam pidatonya pada Upacara Pengambilan Sumpah Ners angkatan XVII, Program Studi Ilmu Keperawatan, dan Pengambilan Sumpah Dokter Gigi angkatan III Program Studi Kedokteran Gigi, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (FKIK UMY). Acara tersebut dilaksanakan Sabtu (22/1) bertempat di Gedung Sportorium, Kampus Terpadu UMY.

Menurut Kirnantoro, banyaknya program studi Keperawatan yang kini dibuka di intstitusi-institusi se-DIY sebenarnya merupakan suatu hal yang positif bagi dunia kesehatan Indonesia. Kirnantoro mengungkapkan, di DIY saja, terhitung sebanyak 13 perguruan tinggi yang saat ini membuka program S1 Studi Keperawatan. Jumlah ini belum termasuk 9 perguruan tinggi yang juga membuka program D3 untuk  studi ini.

Di hadapan 88 orang Ners baru yang mengambil sumpah pada kesempatan itu Kirnantoro menjelaskan, kelulusan kini bukan menjadi jaminan mendapat pekerjaan bagi mereka. Uji Kompetensi setelahnya-lah yang menjadi acuan kualtias perawat di Indonesia. Namun, ia tidak mengkhawatirkan lulusan-lulusan UMY untuk melewati proses uji kompetensi tersebut. “Sebanyak 87,84 % Ners se-DIY berhasil lolos uji kompetensi terakhir. Sementara UMY meloloskan 93 % lulusannya, saya mengapresiasi itu,” jelas Kirnantoro.

Kirnantoro selanjutnya mengharapkan, lulusan Ners tidak berhenti sampai di sini dalam menimba ilmu. Kirnantoro berharap mereka melanjutan studinya. “Tidak hanya S2, di Indonesia bahkan sudah ada beberapa perguruan yang membuka program S3 keperawatan. Ada juga ners Indonesia yang digaji sampai 18 juta di Jepang,” ceritanya. Namun, Ia selanjutnya menjelaskan yang terpenting adalah bagaimana ilmu tersebut bisa dibagikan bagi orang lain.

Selain 88 orang Ners baru, pada kesempatan itu juga dilantik 3 orang dokter gigi baru. Adalah drg. Nana Lilyani, dokter gigi baru yang memperoleh Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tertinggi yaitu 3,09. Sementara Ners baru yang memperoleh IPK tertinggi pada kesempatan tersebut adalah ulan Noviani, S.Kep.,Ns dengan IPK 3,82.

Dalam acara tersebut hadir pula, Ketua Persatuan Dokter Gigi Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (PDGI DIY), drg. Purwanto Agustiono, SU, Perwakilan Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (DIKTI LITBANG) Pimpinan Pusat Muhammadiyah dr. Joko Murdianto, Sp.An, Rektor UMY, Ir. H. M. Dasron Hamid, M,Sc, serta Dekan dan dosen-dosen pengajar kedua program studi.