Hadapi era globalisasi, dokter dituntut tingkatkan kompetensi

Oktober 18, 2010 oleh : BHP UMY

Globalisasi di berbagai sektor yang mengarah pada pasar bebas tidak bisa dihindari oleh negara-negara anggota World Trade Organization (WTO) termasuk Indonesia. Di era ini, batas negara semakin menghilang, sementara kemajuan teknologi dan informasi berkembang cepat. Globalisasi memengaruhi perubahan di semua sekor, tidak terkecuali dunia kedokteran.

Indonesia sebagai negara berkembang dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta menjadi pasar yang potensial bagi masyarakat dunia di era globalisasi pelayanan kesehatan. Oleh karena itu, masuknya tenaga dokter asing ke Indonesia tidak dapat dihindari. Kondisi ini akan bedampak negatif apabila tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas dan kompetensi sumber daya manusia (SDM). Tidak diragukan lagi, jika Indonesia terlambat atau tertinggal dalam melakukan up-grading SDM, maka akan semakin terpuruk posisi bangsa ini dan bukan tidak mungkin menyebabkan berkurangnya  bargaining position sebuah negara dalam kompetisi pertarungan posisi dalam dunia globalisasi.

Sebagai upaya untuk meningkatkan kompetensi dan kualitas para calon dokter, Senat Mahasiswa Kedokteran Umum-Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (SEMAKU-UMY) menyelenggarakan National Medical Challenge (NMC) 2010 mulai Rabu (20/10) hingga Senin (25/10) mendatang.

Menurut Koordinator NMC 2010 Rizki Utari, seorang dokter harus selalu meningkatkan kompetensinya karena dunia kedokteran selalu mengalami perkembangan. “Dunia kedokteran selalu berkembang baik teknologi, penyakit-penyakit baru, obat-obat dan system pengobatan yang baru. Sehingga dokter-dokter dituntut untuk selalu lifelong learner.Seorang dokter harus selalu mengupgrade ilmunya, dia harus selalu belajar dan belajar. Sehingga dia juga akan memahami perkembangan penyakit, obat maupun hal-hal mengenai kesehatan lainnya,”jelasnya ketika ditemui di Kampus Terpadu UMY Senin (18/10).

Kompetensi dokter harus selalu ditingkatkan, dimana dokter tidak hanya paham mengenai pengobatan atau kuratif semata melainkan dokter juga harus melakukan tindakan promotif maupun preventif. “Promotif misalnya melakukan sosialisasi atau ajakan untuk hidup sehat. Preventif adalah tindakan pencegahan agar tidak sakit atau tindakan agar penyakit tidak semakin parah. Sedangkan kuratif yaitu tindakan pengobatan.”ungkapnya.

Dijelaskan Rizki, NMC ini nantinya akan diikuti oleh para mahasiswa kedokteran dari berbagai PTN dan PTS di Indonesia. Nantinya ada serangkaian kegiatan yang bertujuan meningkatkan kompetensi para pesertanya. “Ada medical quiz, semacam olimpiade nasional kedokteran dengan konten berupa soal-soal tertulis, pertanyaan per regu, pertanyaan rebutan, analisis kasus, tes skills lab dan peragaan penyuluhan kesehatan. Dalam tes skills lab tersebut para peserta diminta untuk mempraktekkan misalnya cara pasang infus dan catheter yang benar, pemeriksaan abdomen dan lainnya,”jelas Rizki.

Kemudian diadakan juga bakti sosial di desa Sinduharjo, Pandak. “Bentuk kegiatan berupa penyuluhan mengenai kesehatan jiwa, penyuluhan anak-anak, pemeriksaan gratis, pembagian sembako serta pemeriksaan status gizi,”ujarnya.

Melalui kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kompetensi para calon dokter sehingga ketika mereka telah menjadi dokter, mereka juga akan tetap belajar. “Dengan terus belajar pada akhirnya akan menjadi lebih siap ketika terjun di masyarakat,”urainya.

Selain itu, Rizki berharap ajang ini juga mampu menghasilkan generasi unggul dan berkualitas dalam bidang kedokteran sebagai agent of health, agent of change, dan agent of development. “Kompetisi ini juga diharapkan menjadi wahana pengembangan keilmuan dan keterampilan bagi mahasiswa Kedokteran,” harapnya.

Yogyakarta, 18 Oktober 2010