Guru masih dianggap sumber ilmu Kemandirian mahasiswa dalam belajar perlu ditingkatkan

Guru atau dosen selalu dianggap sebagai sumber ilmu. Sehingga mahasiswa seringkali hanya menerima dan mendengarkan ilmu yang diberikan oleh dosen maupun guru. Mahasiswa cenderung kurang aktif dalam belajar maupun mencari sumber-sumber pendukung ilmu yang dipelajarinya. Untuk itu, kemandirian mahasiswa dalam belajar perlu ditingkatkan.

Demikian disampaikan dosen Program studi bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Sri Rejeki Murtitiningsih, MA dalam diskusi terbatas ‘Peran Kemandirian Mahasiswa dalam Proses Pembelajaran’ di kampus Terpadu Selasa (27/7) siang.

Lebih lanjut Sri Rejeki menjelaskan berdasarkan pengalamannya mengajar maupun pengamatannya kebanyakan mahasiswa kurang mandiri dan terlalu bergantung dengan dosen. “Mereka cenderung dependent atau tergantung dengan apa yang diajarkan dosen. Mahasiswa cenderung baru akan mengerjakan tugas yang diberikan ketika diberitahukan bahwa besok harus dikumpulkan. Jika tidak ada pemberitahuan bahwa tugas tersebut dikumpulkan maka kebanyakan mahasiswa tidak mengerjakan tugas tersebut,”urainya.

Sehingga perlu ada upaya untuk mendorong kemandirian mahasiswa dalam belajar. “Kemandirian mahasiswa itu terkait dengan keaktifan mahasiswa dalam menunjang proses pembelajaran itu sendiri. Misalnya dengan melakukan inisiatif untuk mengerjakan tugas-tugas selain yang telah diajarkan di kelas,”jelasnya.

Dalam pemaparannya, kurang aktifnya mahasiswa dalam belajar bisa disebabkan karena kultur maupun metode pembelajaran yang diberikan. “Kultur yang ada selama ini yang menganggap guru adalah sumber ilmu. Mahasiswa hanya melihat dan mendengarkan saja dalam belajar. Padahal dalam belajar khususnya belajar Bahasa Inggris para mahasiswa harus lebih aktif dalam mengerjakan tugas maupun mempraktekkan ilmu yang diperoleh. Sehingga mereka akan lebih paham,”ujarnya.

Dosen yang pada awal Agustus ini akan melanjutkan studi S3 ke University of Oklahoma Amerika Serikat menambahkan, dalam belajar khususnya Bahasa Inggris mahasiswa akan lebih menguasai ketika dia mau belajar dengan mencari tahu sendiri. “Mahasiswa yang mandiri akan lebih menguasai bidang yang sedang dipelajari. Karena dia belajar tidak hanya di kelas saja,”paparnya.

Selama ini yang dilakukan ketika mengajar yaitu membagi kelompok-kelompok kecil sehingga siswa tidak terlalu banyak. “Hal tersebut kemudian mampu mendorong maupun melibatkan mahasiswa aktif untuk belajar sedangkan guru atau dosen hanya sebagai fasilitator saja,”tambahnya.

Namun masih perlu mencari metode atau cara yang paling tepat untuk meningkatkan kemandirian mahasiswa dalam proses pengajaran. “Karena nantinya kemandirian mahasiswa semasa belajar dengan selalu aktif dalam kuliah maka ketika lulus pun dia juga akan cenderung aktif untuk mencari lapangan pekerjaan,”tuturnya.

Terkait dengan studi lanjutnya itu sendiri, Sri Rejeki menegaskan ia akan mengambil kajian mengenai Curriculum and Instruction. “Karena melalui kajian ini nantinya saya akan dapat lebih mengetahui bagaimana kemandirian mahasiswa mempengaruhi proses pembelajaran. Sehingga pada akhirnya akan dapat menemukan cara yang paling efektif atau tepat dalam meningkatkan kemandirian mahasiswa dalam proses belajar,”tegasnya.

© 2013 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta | Created by Biro Sistem Informasi UMY | About the site