GKR Hemas: Sudah Saatnya Nilai dan Kearifan Lokal Jadi Acuan Dalam Perkenomian

Juli 25, 2017 oleh : BHP UMY

Pemerintah pada akhir-akhir ini mengalami banyak ujian dimana problem dalam aspek ekonomi menjadi salah satunya. Kritik masyarakat terhadap besarnya hutang Indonesia, masih relatif tingginya angka kemiskinan, penerimaan pajak yang belum optimal meski tergolong sukses dengan program tax amnesty yang dilakukan dan juga dengan kurs rupiah yang masih stagnan di angka 13 ribu. Menanggapi hal tersebut Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas turut memberikan pandangan tentang bagaimana nilai dan local wisdom dari kebudayaan Jawa dapat menjadi solusi dalam melakukan kegiatan ekonomi pada acara 10th Internastional Indonesia Forum (IIF) yang diadakan oleh Jusuf Kalla School of Government (JKSG) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) pada hari Selasa (25/7).

Menurut GKR Hemas dalam konteks ekonomi Indonesia saat ini, lebih condong pada aura kapitalisme. Karena itu, dalam upaya perbaikan ekonomi Indonesia kedepannya, pemerintah dan masyarakat sudah saatnya untuk menjadikan local values (nilai) dan wisdom (kearifan lokal) sebagai acuan dalam bertindak. “Menurut saya sudah saatnya kita mengapresiasi nilai dan moral ekonomi lokal milik Indonesia sendiri. Misalkan dalam falsafah Jawa yang berbunyi Hamemayu hayuning bawana. Ini adalah sebuah kearifan lokal dan merupakan inti dari ajaran kejawen. Ia sangat universal dan komprehensif sehingga dapat diinterpretasikan secara terbuka menurut konteks dan kebutuhan. Termasuk dalam Ekonomi, nilai ini akan dapat ditafsirkan untuk pembangunan ekonomi Indonesia,” ujar GKR.

“Puncak dari falsafah ini adalah untuk mencapai tata-titi-tentrem, yaitu keteraturan, ketenangan dan ketentraman yang menggambarkan bahwa seseorang memiliki jiwa hamemayu hayuning bawana. Ketika dia bisa memberikan keselarasan dengan sekitarnya seperti menolong sesamanya yang membutuhkan dan juga terhadap alam. Ini menunjukkan ada nilai altruisme dalam falsafah orang Jawa. Hal ini tidak sejalan dengan model ekonomi klasik yang menganggap manusia sebagai makhluk ekonomi yang selalu mementingkan diri sendiri. Singkatnya, model ekonomi klasik tidak kompeten dengan jati diri orang Jawa. Model ekonomi yang relatif sejalan dengan konsep budaya ini adalah ekonomi kooperasi, ekonomi hijau atau yang sejenisnya,” papar GKR.

GKR menjelaskan bahwa hamemayu hayuning bawana juga dapat dikatakan sebagai sebuah acuan dalam etos kerja, dimana meskipun orang Jawa mempunyai pemikiran bahwa kehidupan yang ia jalani adalah sementara tapi tugas yang diembannya selama di dunia adalah untuk bekerja keras dengan sungguh-sungguh dan terus menerus untuk menjaga kebenaran, kebaikan, keselamatan dan kelestarian dunia. “Membangun etos kerja sama dengan membangun separuh dari pembangunan ekonomi sebuah bangsa maupun daerah itu sendiri. Ini merupakan sebuah bentuk pemberdayaan masyarakat. Merupakan sebuah tindakan yang paling serius karena ini juga akan membentuk karakter bangsa. Kalau dirasa untuk menjadikan falsafah hamemayu hayuning bawana menjadi etos kerja nasional terlalu ideal, hal ini memungkinkan untuk diterapkan pada masyarakat lokal Jawa yang punya etos kerja tinggi. Bisa dilihat apakah etos kerja yang mereka miliki apakah berasal dari konsep ini atau nilai budaya lain,” jelas GKR.

Pada kesempatan tersebut GKR Hemas juga menyebutkan beberapa prinsip ekonomi orang Jawa lainnya yang diturunkan dari konsep hamemayu hayuning bawana. “Bukak dasar mengajarkan kita bahwa faktor penting dalam bisnis adalah relasi atau pelanggan. Ini sepaham dengan konsep bisnis modern yang mengatakan bahwa 1 orang pelanggan lebih baik dari 10 orang pembeli baru. Selain itu ada juga istilah tuna sathak-bathi sanak yang artinya lebih mementingkan harmoni sosial dibandingkan keuntungan secara materi yang tidak seberapa. Ada juga etika Jawa yang berbunyi ora lumrah dan ora njawani yang mengacu pada tindakan mengambil keuntungan berlebihan, ini yang harus dihindari,” tambahnya.

Isu yang diangkat oleh GKR tersebut senada dengan tema yang diusung oleh IIF yaitu Indonesian Exceptionalism: Values and Morals of the Middle Ground. Sementara itu di lain pihak pembicara lain dalam forum tersebut yaitu Chiou Syuan-yuan dari National Chenghi University memberikan presentasi mengenai Fatwa Tenaga kerja Wanita (TKW) Muslim di Taiwan. “Selama 2 dekade terakhir Taiwan sudah mengambil banyak pekerja dari berbagai daerah di wilayah Asia Tenggara. Karena kurangnya tenaga kerja di Taiwan sendiri, salah satu pekerja yang banyak masuk ke Taiwan adalah dari daerah Indonesia,” ujar Chiou.

“Taiwan sendiri sangat terbuka untuk berbagai kebudayaan dan agama yang datang. Ini bisa dilhat dari penerimaan masyarakat Taiwan terhadap komunitas yang datang dan kemudahan untuk mempraktikkan kepercayaannya. Meskipun begitu ada gap secara sosial yang cukup dominan ketika migrant worker tinggal di sana karena kultur yang dimilikinya akan terasa asing di Taiwan. Dalam hal ini banyak pelajar muslim yang menjadi relawan dalam membantu mereka, ini karena Taiwan memiliki angka tertinggi untuk pelajar muslim dari seluruh chinese-speaking countries lainnya. Mereka melakukan berbagai asistensi dan juga edukasi mengenai kehidupan di Taiwan dan juga mengadakan berbagai kegiatan keagamaan seperti pengajian untuk para pekerja muslim Indonesia di sana,” jelas Chiou dalam presentasi untuk membuka diskusi forum pertama dalam acara tersebut.

Ia menyampaikan di samping tingginya jumlah pekerja Indonesia di Taiwan terlebih untuk TKW, menurutnya Indonesia tidak terlalu mendukung untuk hal tersebut. “Majelis Ulama Indonesia memberikan fatwa haram untuk pekerja wanita yang ingin bekerja di luar negeri apabila tidak didampingi oleh pasangannya. Ini menunjukan bahwa pemerintah Indonesia kurang mendukung wanita untuk menjadi pekerja di luar negeri. Padahal banyak sekali TKW di Taiwan yang datang sendirian ke Taiwan. Selain itu dari informasi yang saya dapatkan dari sebuah majalah terbitan komunitas Indonesia di Taiwan mereka menyebutkan bahwa pemerintah tidak terlalu memperhatikan komunitas diaspora indonesia di daerah Asia timur dan Tenggara seperti Jepang, Taiwan danTiongkok. Ini yang menjadi fokus utama dalam diskusi kali ini,” papar Chiou. (raditia)

Sharing is caring!