Generasi Muda Tumpuan Peradaban Islam

November 15, 2012 oleh : BHP UMY

Generasi muda merupakan tumpuan peradaban Islam, sehingga generasi muda dituntut untuk menguasai ilmu agama di satu sisi, namun harus menguasai ilmu pengetahuan di sisi yang lain. Kedua sisi ini harus berkolaborasi untuk mendapatkan manfaat di dunia maupun di akhirat kelak.

Hal ini diungkapkan Ustadz Muniches Idris Pengurus Muballigh Muhammadiyah Yogyakarta dalam ceramah Tabligh Akbar yang merupakan rangkaian acara Gema Muharram 1434 H pada hari Selasa (13/11) bertempat di Masjid KH. Ahmad Dahlan Kampus Terpadu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

“Generasi muda saat ini banyak yang telah mengerti Al-Qur’an baik sebagai sumber ilmu pengetahuan maupun pedoman hidup. Namun demikian Al-Qur’an masih disikapi sebagai bahan bacaan, namun bukan sebagai amalan. Padahal Al-Qur’an itu harus dipahami, dihayati, serta diamalkan agar menjadi cerminan bagi karakter dan akhlak pemuda”, tutur Ustadz Muniches.

“Berkaca pada perjuangan pendiri Muhammadiyah KH. Ahmad Dahlan. Sebagai seorang pemuda kala itu beliau melihat kenyataan disekitarnya banyak istri yang menjanda karena ditinggal mati suaminya di medan perang, sedangkan anak-anaknya menjadi yatim, belum lagi fakir miskin yang diperlakukan semena-mena oleh penjajah. Hal ini menyadarkan Ahmad Dahlan muda untuk melakukan aksi nyata dengan memberikan pertolongan. Kemudian melalui pengajiannya ia senantiasa berdakwah dengan landasan surah Al-Maun. Upaya tersebut berlanjut hingga sekarang kita dapat merasakan kerja keras Ahmad Dahlan yang telah berbuat untuk ummat”, tandas Ustadz Muniches.

“Lalu bagaimana dengan saat ini ? Apabila kita menggali nilai-nilai pembangun peradaban dalam Al-Qur’an kita akan menemukan banyak hal yang terkait dengan ilmu pengetahuan yang dapat diamalkan di masa kekinian. Dapat dikatakan perjuangan Ahmad Dahlan di masa penjajahan dengan menggunakan dakwah surah Al-Maun relevan di masa itu. Namun sekarang kita perlu menggali lagi nilai-nilai dalam Al-Qur’an untuk menyelesaikan masalah ummat yang lebih kompleks dan beragam”, terangnya lagi.

Ustadz Muniches lalu berpesan kepada generasi muda saat ini, pemuda tidak boleh gaptek (gagap teknologi) di era yang sudah serba canggih. Pemuda wajib memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dalam ilmu pengetahuan agar mampu menjadi generasi yang unggul untuk menegakkan ajaran Islam. Di samping itu, pemuda wajib untuk menanamkan sikap beramal ilmiah, berilmu amaliah agar ilmu pengetahuannya dapat diamalkan di tengah-tengah masyarakat.

Sementara itu Zainuddin Arsyad selaku Ketua Panitia menegaskan untuk membangun peradaban dunia tidak semudah membalikkan telapak tangan, namun membutuhkan proses. Di antara proses yang dijalani, peringatan Gema Muharram 1433 H dihadirkan untuk ikut serta dalam proses tersebut. “Kegiatan ini bertujuan untuk membina generasi muda melalui kegiatan bernuansa keislaman. Di samping itu, kegiatan ini ingin membentuk karakter dan jati diri pemuda agar menjadi muslim sejati. Dalam proses kedepannya generasi muda yang telah dipersiapkan ini akan menjadi pemimpin berakhlak mulia dan mampu membangun peradaban yang mensejahterakan ummat,” tambahnya.