Gagalnya Komunikasi Antar 2 Manusia Jadi Penyebab Timbulnya Masalah Sosial

Mei 10, 2016 oleh : BHP UMY

IMG_5594Banyaknya masalah sosial yang terjadi di tengah-tengah masyarakat, seperti masih tingginya angka perceraian, pembunuhan anak terhadap orang tua atau orang tua terhadap anak, kenakalan remaja hingga masalah seks bebas, sebenarnya diakibatkan oleh gagalnya komunikasi antar 2 manusia. Dan kebanyakan kegagalan dari komunikasi tersebut berasal dari lingkungan rumah tangga atau keluarga.

Demikian disampaikan oleh Fahd Pahdepie, penulis buku Rumah Tangga dan novel Jodoh, saat menjadi pembicara dalam Talkshow dan Bedah Buku bertajuk “Berdakwah Kata, Berjodoh Kita”, pada Selasa (10/5). Talkshow yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini bertempat di Aula Masjid KH. Ahmad Dahlan UMY.

Fahd menyampaikan bahwa komunikasi yang terjalin di dalam keluarga bisa memberikan pengaruh yang cukup besar bagi kehidupan bermasyarakat. Karena itulah mengapa sebuah keluarga sudah seharusnya dapat memanajemen pola komunikasi keluarganya dengan baik. “Banyak masalah sosial di tengah masyarakat dan negara kita saat ini adalah karena gagalnya komunikasi antar dua manusia, dan seringkali kebanyakan kegagalan komunikasi itu berasal dari rumah. Itulah kenapa angka perceraian masih tinggi, masih banyak terjadi pembunuhan orang tua kepada anak, atau anak kepada orang tua. Kasus-kasus yang terjadi itu diakibatkan gagalnya komunikasi di dalam keluarga,” ungkap alumnus Hubungan Internasional UMY ini.

Untuk membantu mengatasi permasalahan tersebut, lanjut Fahd, juga diperlukan peran serta dari berbagai lapisan masyarakat, termasuk dari seorang penulis seperti dirinya. Karena itulah, ia mulai mendedikasikan dirinya untuk membuat karya yang bertemakan rumah tangga. “Dari sanalah saya mulai berpikir untuk harus melakukan sesuatu yang setidaknya dapat membantu mengurangi permasalahan tersebut. Jadi saya mulai mendedikasikan diri untuk berkarya mengenai rumah tangga, bagaimana memanajemen rumah tangga dan bagaimana perspektif kita tentang jodoh. Saya memfokuskan untuk menulis hal tersebut agar saya bisa memberikan sedikit pengaruh kepada banyak orang agar mereka bisa memperbaiki komunikasi antar manusia. Karena mungkin kalau boleh jadi, dengan sedikit pengaruh baik tersebut bisa memberikan efek yang baik pula bagi negara dalam memecahkan persoalan bangsa kita saat ini,” jelasnya.

Di samping itu, Fahd juga mengulas alasan dari ditulisnya novel Jodoh yang telah dicetak ulang sebanyak delapan kali tersebut. Menurutnya, buku tentang jodoh dan keluarga tersebut ditulis karena dirinya ingin meninjau ulang tentang makna cinta. Sebab banyak orang mengira bahwa jodoh itu adalah belahan jiwa. Padahal menurutnya, jodoh itu tidaklah sesederhana kata tersebut. “Jodoh itu adalah sebuah konsekuensi takdir dari sebab akibat keputusan-keputusan yang kita buat. Jadi, ketika Allah SWT sudah memutuskan takdir, yang disiapkan oleh Allah adalah semesta kemungkinan, tergantung bagaimana kita memilih kemungkinan-kemungkinan tersebut. Nasib bisa berubah tergantung keputusan yang kita pilih, semesta kemungkinan lain dan takdir yang mucul itu ada untuk mendukung keputusan yang kita pilih. Jadi konsekuensi takdir dari yang kita pilih, kemudian bertemu dengan konsekuensi takdir dari orang lain yang dipilihnya, itulah yang dinamakan jodoh. Dan kalau ingin mendapatkan jodoh yang baik, maka buatlah serangkaian keputusan terbaik,” tutupnya.