Fotografer Kreatif Harus Hindari Ide Global

April 15, 2017 oleh : BHP UMY

Ide global dalam dunia fotografi jurnalistik masih sering dipergunakan. Agar foto yang dihasilkan tidak terlihat klise, seorang fotografer harus mampu menghasilkan ide baru agar tidak mengikuti ide global. Hal tersebut yang disampaikan oleh Fotografer Senior KOMPAS, Arbain Rambey saat membagikan pengalamannya pada seminar jurnalistik bertajuk “INFRAME : International Relations Fabulous Journalism Course,” Kamis (13/4) di Gedung AR Fachruddin B lantai 5 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

“Ide global menjadi gaya genetik yang sering dipakai para fotografer, sehingga karya yang diambil sering dikira hasil contekan dari ide orang lain. Contohnya dalam hasil foto jurnalistik yang sering kita temui yaitu banyaknya fotografer mengambil foto anak kecil diantara orang dewasa di dalam antrian kelangkaan minyak yang pernah terjadi di Indonesia. Selain itu fotografer juga sering mengambil objek boneka yang terkapar diantara reruntuhan bangunan akibat perang maupun bencana. Ide ini sudah basi, karena sering dipakai di dunia jurnalistik,” ujar Arbain.

Pada penjelasan seminar yang diadakan oleh Korps Mahasiswa Hubungan Internasional (KOMAHI) UMY tersebut, Arbain kembali menjelaskan bahwa hasil foto jurnalistik, harus memenuhi empat unsur foto. Keempatnya yaitu unsur teknis, posisi, komposisi, dan moment. “Unsur teknis ini meliputi seperti diafragma, speed, iso. Kesalahan yang sering dilakukan pada fotografer biasanya pada posisi objek, dan komposisi seperti foto yang membelakangi cahaya, saling menumpuk antara objek dan pemandangan. Moment juga harus dipikirkan terkait tempat yang pas dan sesuai suasana. Biasanya hasil foto yang indah untuk daerah tropis diambil pada pagi hari. Lain halnya hasil foto yang diedit menggunakan photoshop hanya bisa diperbaiki pada unsur teknis, tapi tidak pada posisi, komposisi, dan moment,” jelasnya.

Hasil foto untuk kategori jurnalistik yang diharuskan mengandung nilai berita tersebut, Arbain mengatakan bahwa foto jurnalistik harus seperti foto yang berbicara. Sehingga setiap yang melihat akan mengetahui secara langsung tanpa harus dijelaskan. “Foto jurnalistik itu ketika ada orang yang melihat langsung menangkap maknanya. Untuk menghasilkan foto yang berbicara juga membutuhkan sebuah ide. Ide yang kreatif itu adalah yang mampu memadukan aneka ide ke dalam sebuah ide baru,” imbuhnya.

Arbain yang selama puluhan tahun berkecimpung di dunia fotografi jurnalistik tersebut menyarankan bagi yang ingin berkiprah di pekerjaan yang sama harus menjaga kode etik jurnalistik dengan menjaga nilai-nilai kejujuran. “Ada syarat yang harus ada pada jiwa fotografer, terlebih fotografi jurnalistik. Kode etik yang harus dipatuhi yaitu fotografer harus jujur, tidak boleh berbohong untuk mendapatkan foto yang menarik perhatian. Selain itu seorang fotografer juga harus berani dan tidak takut darah, karena akan menemukan peristiwa yang mengerikan,” sarannya. (hv)

Share thisShare on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0