FISIPOL UMY dan COLGIS UUM Berkomitmen Tingkatkan Kerjasama

Oktober 4, 2013 oleh : BHP UMY

_MG_6267 copySebanyak 13 mahasiswa dan 2 orang dosen delegasi College of Law, Government and International Studies Universiti Utara Malaysia (COLGIS UUM) Jum’at (4/10) pagi mengunjungi kampus terpadu UMY. Kunjungan tersebut terkait peningkatan kerjasama antara FISIPOL UMY dengan COLGIS UUM yang telah terbentuk 3 tahun terakhir.

Dekan FISIPOL UMY Ali Muhammad, S.IP, M.A, Ph.D mengungkapkan pihaknya menyambut baik kunjungan tersebut. Kerjasama yang telah dijalin kedua pihak selama ini diwujudkan dengan adanya sistem transfer credit bagi mahasiswa IPIREL UMY yang ingin belajar di UUM dan sebaliknya. Hal itu, lanjut Ali, harus dapat diperluas lagi karena masih di dominasi IPIREL UMY. “Kita punya hubungan erat selama 3 tahun terakhir. Kerjasama kedepan harus dikembangkan dengna prodi lain di FISIPOL,” jelasnya.

Dosen Prodi HI itu mengatakan kerjasama yang telah dijalin FISIPOL UMY dan COLGIS UUM merupakan salah satu bentuk interaksi untuk menyambut ASEAN Economic Community 2015. “Malaysia dan RI memliki hubungan yang sangat erat. Ini adalah salah satu bentuk interaksi U to U dalam menyambut ASEAN Economic Community 2015,” ungkapnya.

Senada dengan Ali, Dr. Suyatno selaku dosen delegasi COLGIS UUM mengungkapkan kunjungannya kali ini bertujuan untuk meningkatkan kerjasama yang telah terjalin selama ini. “Semoga hubungan semakin rapat setelah kedatangan kami,” katanya.

Dosen UUM yang berasal dari Yogya itu mengaku antusias untuk mengirimkan mahasiswa Govermental Studies atau Ilmu Pemerintahann (IP UUM) untuk belajar di UMY. Ia juga mengundang mahasiswa UMY untuk melakukan seat in di COLGIS UMM. “Saya sangat antusias untuk mengirimkan mahasiswa IP UMM untuk belajar di UMY,” tambahnya.

Dalam sambutannya, secara khusus  ia menyoroti konflik yang kerap terjadi antara kedua Negara. Akademisi, lanjut Suyatno, memiliki tanggung jawab moral untuk menjelaskan kepada masyarakat bahwa konflik RI-Malaysia adalah sesuatu yang tidak perlu dan merupakan efek dari pemberitaan media. “Apalagi konflik budaya, itu tidak perlu. RI-Malaysia satu rumah, setelah ada kolonialisasi kita dibagi-bagi semaunya sehingga kerap muncul permasalahan seperti di perbatasan,” ujarnya. (Lalu)