Film Indie Alternatif Keseragaman Tema Film Komersial

Februari 10, 2010 oleh : BHP UMY

Perkembangan film Indonesia cukup menggembirakan beberapa tahun terakhir. Setelah sempat mengalami kematian suri, film Indonesia kini semakin berjaya di dalam negeri. Secara kuantitas, jumlah film Indonesia yang diproduksi dari tahun ke tahun cukup signifikan kenaikannya. Namun sayang, banyaknya film Indonesia yang muncul itu akhirnya menyebabkan kecenderungan kesamaan tema dan alur cerita. Akhir-akhir ini, film-film Indonesia terjebak pada tema percintaan dan tema horor.

Di tengah keseragaman tema tersebut, film indie dapat menjadi sebuah tontonan alternatif di antara film-film komersial yang ada. Dengan kemajuan teknologi informasi seperti sekarang, perkembangan film indie mengalami kemajuan secara signifikan dalam hal kuantitas, meskipun masih juga diperlukan perbaikan.

Demikian disampaikan Zein Mufarrih Muktaf, pengamat film Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dalam diskusi film di Kampus Terpadu UMY, Senin (08/02).

Lebih lanjut, Zein menyampaikan bahwa perkembangan tersebut disebabkan karena teknologi yang semakin murah dan mudah didapatkan. Kini, semua orang dapat dengan mudah mengakses video. Program editing atau penyuntingan juga banyak yang bisa didapatkan secara cuma-cuma, tanpa harus membayar. Perkembangan film indie pun menjadi meningkat signifikan secara kuantitas.

Banyaknya penyelenggaraan festival film di Yogyakarta adalah salah satu bukti pesatnya perkembangan film indie. Komunitas film indie pun sangat luar biasa antusiasmenya menyambut festival semacam itu. Film-film indie keluaran Yogyakarta juga patut dibanggakan secara kualitas.

Menurut Zein, film hanya dapat dibagi menjadi dua kategori. Pertama adalah film yang merupakan seni untuk seni, dan yang kedua adalah film yang merupakan seni untuk khalayak atau pasar. Film indie termasuk dalam bagian kategori seni untuk seni, bukan seni untuk khalayak atau pasar. Film indie itu film yang independen, dapat menyuarakan apa yang diinginkan tanpa harus embel-embel tuntutan pemilik modal. Film indie lebih jujur menyampaikan sesuatu.

“Jika dapat dimanfaatkan dengan baik, film bisa menjadi salah satu sarana terbaik dan yang paling efektif dalam menyampaikan pesan. Melalui film, orang akan merasa terhibur. Sehingga dalam kondisi senang itu, akan membuatnya lebih mudah dalam menerima pesan yang terkandung di film itu,” terang Zein.

Zein yang juga praktisi film indie ini menyatakan bahwa para pembuat film indie harus lebih kreatif lagi dalam memproduksi karyanya agar dapat menyaingi gaung film komersial. Tentu film indie akan dicari penikmat film jika sanggup menyuguhkan hal yang berbeda dari suguhan film komersial.

Kelebihan film indie adalah lebih idealis, jika dibandingkan dengan film komersial karena film komersial sudah tercampur tuntutan untuk sukses di pasaran. Pesan yang disampaikan oleh film indie biasanya masih murni, berbeda dengan pesan dalam film komersial yang sudah dicampuri kepentingan pemilik modal.

Namun, Zein juga mengakui, tak bisa dipungkiri jika film indie juga memiliki kekurangan. Kekurangannya ada pada diri pembuat film itu sendiri. “Sulit untuk menjelaskan apa kekurangan film indie. Namun, yang sering menjadi kelemahan justru datang dari personal pembuat filmnya. Kelemahan sang film maker dalam mempertahankan idealismenya kadang menjadi nilai minus,” tutur Zein.

Ia menyayangkan hal tersebut. “Jadi, masih banyak pembuat film indie yang saat memproduksi film indie, arah pikirannya sudah berpikir untuk menjadi pembuat film profesional atau komersial nantinya. Ini yang menyebabkan para pembuat film indie tidak bertahan lama di jalur indie,” ujar dosen Departemen Ilmu Komunikasi UMY ini.

Perkembangan film indie ini tentu tidak lepas dari hambatan yang mengiringinya. Zein berpendapat bahwa yang masih menjadi hambatan utama dalam perkembangan film indie dewasa ini adalah kurangnya forum, wahana, atau sarana untuk mengapresiasi film indie. Public sphere atau ruang publik untuk pemutaran film indie belum terfasilitasi dengan baik. Sedangkan untuk menyewa tempat pertunjukan atau semacamnya, membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Tentunya untuk menyewa dirasakan cukup berat oleh komunitas film indie yang notabenenya bergerak secara swadaya.

Film maker indie di Indonesia begitu banyak. Namun sayangnya, mereka kurang mendapatkan apresiasi. Wadah, sarana, atau tempat-tempat untuk pemutaran film indie masih sangat kurang. Pemerintah kurang memberikan perhatiannya, padahal dukungan pemerintah sangat dibutuhkan. Mudah-mudahan ke depannya, film indie bisa lebih diperhatikan oleh pemerintah sehingga semakin mendapat tempat di masyarakat,” imbuhnya.