Faktor Lingkungan Dukung Muslimah Karir

November 18, 2017 oleh : BHP UMY

Perempuan adalah makhluk mysterium fascinosum, makhluk yang menarik tapi sulit untuk di mengerti. Makhluk penuh misteri, kurang difahami dan sering disalahtafsirkan. Sosok perempuan biasa ditafsirkan sebagai sosok yang mempunyai peran penting dalam sebuah keluarga, terutama dalam mengurus anak dan urusan dapur. Akan tetapi, secara akademis yang lebih moderat, terdapat sebuah perubahan paradigma yang disebut sebagai kesetaraan gender. Sosok perempuan telah mendapatkan tempat tidak hanya sebagai ibu rumah tangga tapi juga sebagai perempuan karir dan terkadang sebagai sosok pemimpin.

Karena begitu menariknya pembahasan tentang sosok perempuan khususnya muslimah menjadi alasan Supriyadi untuk mengambil judul desertasi “Muslimah Karir Di Gunungkidul”, sebagai salah satu syarat guna mendapatkan Gelar Doktor Dalam Ilmu Psikologi Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Pada paparannya di Sidang Promosi Doktor Sabtu (18/11) di Gedung Kasman Singodimedjo UMY, Supriyadi mengatakan bahwa sosok perempuan karir terkadang menjadi konflik di masyarakat. “Faktor yang paling sering mempengaruhi muslimah untuk berkarir itu adalah keluarga dan lingkungan. Akan tetapi, tidak selalu kondisi lingkungan dan keluarga itu mendukung kehidupan muslimah karir, sehingga hal itulah yang berpotensi menimbulkan konflik,” tutur promovendus.

Selain itu Supriyadi juga mengatakan bahwa faktor terbesar yang berperan terhadap pencapaian muslimah karir adalah faktor lingkungan. “Diantara faktor intrapersonal dan faktor lingkungan, faktor lingkungan merupakan yang paling berperan dalam pencapaian muslimah karir yang dimediasi oleh kesetaraan gender. Ini membuktikan bahwa muslimah karir di samping melaksankan kewajibannya sebagai istri, ibu dan pimpinan masyarakat dalam organisasi sosial, juga dituntut untuk mengembangkan karir di bidang politik, pendidikan, ekonomi, dan bidang-bidang lainnya,” paparnya.

Supriyadi juga menanggapi tentang pendapat bahwa perempuan tidak boleh menjadi seorang pemimpin dalam perspektif agama. “Saya kurang sependapat dengan paradigma tersebut. Karena saat ini perempuan memiliki kemampuan yang setara dengan laki-laki dan masyarakat pun telah terbiasa dengan sosok pemimpin yang perempuan. Selain itu masyarakat juga perlu untuk mengkaji lebih dalam tentang permasalahan pemimpin perempuan tersebut sebelum memberikan respon,” paparnya.

Supriyadi menjadi Doktor ke 41 yang dihasilkan oleh Pascasarjana UMY. Supriyadi yang merupakan Dosen Universitas Gunungkidul Yogyakarta berhak menyandang gelar Doktor Psikologi Islam dan dinyatakan lulus dengan hasil sangat memuaskan. Sidang Promosi Doktor ini diketuai oleh Prof. Dr. Siswoyo Haryono,MM,Ed Sekertaris Sidang Dr. Abd. Madjid,M.Ag dan enam anggota penguji yang terdiri dari Prof.Dr.Siswanto Masruri,M,A , Dr Muhammad Azhar,M.Ag. , Prof.Dr.Alef Theria Wasim, M.A. Dr. Hamim Ilyas, M.Ag. , Dr. Akif Khilmiyah, M.Ag. Dr. Khoiruddin Bashori, M.Si.

Sharing is caring!