Dua Profesor Korea University Meriahkan Milad FISIPOL UMYDua Profesor Korea University Meriahkan Milad FISIPOL UMY

Februari 21, 2013 oleh : BHP UMY

Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIPOL) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menghadirkan dua profesor dari Korea University, Prof. Jin-Wook Choi dan Prof. Sunhyuk Kim sebagai pembicara dalam rangkaian acara miladnya yang ke-32 tahun ini. Prof. Jin-Wook Choi dalam Pidato Miladnya menyampaikan tentang perbandingan korupsi yang terjadi di Indonesia dengan Korea Selatan. Menurutnya, korupsi yang terjadi di Indonesia saat ini sama seperti yang dialami Korea Selatan sekitar 33 tahun yang lalu. “Di Indonesia, korupsi masih menjadi persoalan besar, dan ini sama seperti Korea Selatan pada dekade 1980-an. Karena korupsi akan berpengaruh buruk terhadap banyak hal, misalnya perekonomian dan kesejahteraan masyarakat, maka Indonesia harus mampu menangani kasus korupsi, seperti yang dilakukan negara kami,” paparnya.

Ada dua cara yang dapat dilakukan untuk memberantas korupsi. Pertama, mengubah pola pikir masyarakat bahwa korupsi adalah penyakit yang harus dihilangkan. Hal ini bisa dilakukan melalui pendidikan tentang politik dan sosial budaya kepada masyarakat, sehingga menumbuhkan mindset dan budaya anti korupsi di tengah-tengah masyarakat. “Kedua, lembaga penegak hukum seperti KPK dan Mahkamah Agung harus adil dan tegas kepada para pelaku dalam upaya pemberantasan korupsi,” jelas Prof. Choi dalam pidatonya di Ruang Sidang AR. Fakhruddin A lantai 5 Kampus terpadu UMY, Rabu (20/2). Selanjutnya, Prof. Choi menerangkan bahwa meskipun indeks peringkat korupsi Indonesia memprihatinkan, akan tetapi dia optimis bahwa korupsi di Indonesia akan bisa diberantas karena masih banyak pihak yang berani bersuara lantang untuk memerangi korupsi.

Sementara itu, di tempat lain diadakan kuliah umum yang diselenggarakan Jusuf Kalla School of Government (JKSG) UMY di ruang Simulasi Sidang Hubungan Internasional UMY, Prof. Sunhyuk Kim menjelaskan tentang bagaimana perjalanan proses demokratisasi di Korea Selatan sejak masa presiden pertama Roh Tae Woo para periode 1988-1982, hingga pada masa Lee Myung Bak, 2008-2010. Menurutnya, demokrasi di Korea Selatan sangat dipengaruhi peran kelompok masyarakat sipil. “Banyaknya protes yang dilakukan oleh kelompok tersebut, sangat mempengaruhi jalannya pemerintahan demokrasi di Korea Selatan. Jadi, jika ada kebijakan dari Pemerintah yang tidak sesuai, mereka akan melakukan protes,” ujar Prof. Kim saat memberikan kuliah umum “Korea New Elected President and Korea-Indonesia Relationship”. Hal ini berbeda dengan praktik demokrasi di negara-negara lain yang cenderung menggunakan mekanisme parlementer sebagai upaya mempengaruhi kebijakan pemerintahan. Keunikan yang terjadi di dalam proses demokratisasi di Korea Selatan ini menurutnya seolah menjadikan Korea Selatan sebagai satu tipe sistem demokrasi tersendiri.

Dengan mengangkat tema “Discovering New Knowledge Through Research”, Milad tahun ini bertujuan menjadikan FISIPOL UMY sebagai fakultas yang unggul dalam pendidikan bertaraf internasional. Selain menyelenggarakan Pidato Milad dan Kuliah Umum, rangkaian Milad ke-32 juga dimeriahkan dengan festival seni dan kuliner serta penghargaan bagi para dosen berprestasi di lingkungan fakultas.SAM_1516Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIPOL) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menghadirkan dua profesor dari Korea University, Prof. Jin-Wook Choi dan Prof. Sunhyuk Kim sebagai pembicara dalam rangkaian acara miladnya yang ke-32 tahun ini. Prof. Jin-Wook Choi dalam Pidato Miladnya menyampaikan tentang perbandingan korupsi yang terjadi di Indonesia dengan Korea Selatan. Menurutnya, korupsi yang terjadi di Indonesia saat ini sama seperti yang dialami Korea Selatan sekitar 33 tahun yang lalu. “Di Indonesia, korupsi masih menjadi persoalan besar, dan ini sama seperti Korea Selatan pada dekade 1980-an. Karena korupsi akan berpengaruh buruk terhadap banyak hal, misalnya perekonomian dan kesejahteraan masyarakat, maka Indonesia harus mampu menangani kasus korupsi, seperti yang dilakukan negara kami,” paparnya.

Ada dua cara yang dapat dilakukan untuk memberantas korupsi. Pertama, mengubah pola pikir masyarakat bahwa korupsi adalah penyakit yang harus dihilangkan. Hal ini bisa dilakukan melalui pendidikan tentang politik dan sosial budaya kepada masyarakat, sehingga menumbuhkan mindset dan budaya anti korupsi di tengah-tengah masyarakat. “Kedua, lembaga penegak hukum seperti KPK dan Mahkamah Agung harus adil dan tegas kepada para pelaku dalam upaya pemberantasan korupsi,” jelas Prof. Choi dalam pidatonya di Ruang Sidang AR. Fakhruddin A lantai 5 Kampus terpadu UMY, Rabu (20/2). Selanjutnya, Prof. Choi menerangkan bahwa meskipun indeks peringkat korupsi Indonesia memprihatinkan, akan tetapi dia optimis bahwa korupsi di Indonesia akan bisa diberantas karena masih banyak pihak yang berani bersuara lantang untuk memerangi korupsi.

Sementara itu, di tempat lain diadakan kuliah umum yang diselenggarakan Jusuf Kalla School of Government (JKSG) UMY di ruang Simulasi Sidang Hubungan Internasional UMY, Prof. Sunhyuk Kim menjelaskan tentang bagaimana perjalanan proses demokratisasi di Korea Selatan sejak masa presiden pertama Roh Tae Woo para periode 1988-1982, hingga pada masa Lee Myung Bak, 2008-2010. Menurutnya, demokrasi di Korea Selatan sangat dipengaruhi peran kelompok masyarakat sipil. “Banyaknya protes yang dilakukan oleh kelompok tersebut, sangat mempengaruhi jalannya pemerintahan demokrasi di Korea Selatan. Jadi, jika ada kebijakan dari Pemerintah yang tidak sesuai, mereka akan melakukan protes,” ujar Prof. Kim saat memberikan kuliah umum “Korea New Elected President and Korea-Indonesia Relationship”. Hal ini berbeda dengan praktik demokrasi di negara-negara lain yang cenderung menggunakan mekanisme parlementer sebagai upaya mempengaruhi kebijakan pemerintahan. Keunikan yang terjadi di dalam proses demokratisasi di Korea Selatan ini menurutnya seolah menjadikan Korea Selatan sebagai satu tipe sistem demokrasi tersendiri.

Dengan mengangkat tema “Discovering New Knowledge Through Research”, Milad tahun ini bertujuan menjadikan FISIPOL UMY sebagai fakultas yang unggul dalam pendidikan bertaraf internasional. Selain menyelenggarakan Pidato Milad dan Kuliah Umum, rangkaian Milad ke-32 juga dimeriahkan dengan festival seni dan kuliner serta penghargaan bagi para dosen berprestasi di lingkungan fakultas.