Dosen UMY Wakili Indonesia Sebagai Panelis dalam Debat Panel di PBB

September 28, 2015 oleh : BHP UMY

Menjadi kebanggaan tersendiri bagi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dengan terpilihnya salah seorang dosennya sebagai pembicara dalam acara internasional. Rahmawati Husein, MCP, Ph.D, selaku dosen program studi (prodi) Ilmu Pemerintahan UMY mendapatkan kehormatan untuk menjadi salah satu panelis mewakili Indonesia dalam “High Level Panel Debate” yang diadakan oleh International Committee of the Red Cross (ICRC) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada hari Rabu (30/09) mendatang. Debat panel tersebut mengangakat tema kemanusiaan berjudul “Uniting Around the Principal of Humanity”. Dalam debat panel yang akan diselenggarakan di Gedung General Assembly, United Nation tersebut, lima panelist akan mempresentasikan topik seputar kemanusiaan dengan perspektif masing-masing.

Rahmawati Husein, yang juga merupakan wakil ketua MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Center) akan membahas tentang prinsip kemanusiaan dan mempresentasikan tentang MDMC sebagai salah satu organisasi kemanusiaan yang bergerak membantu korban bencana alam. Dalam materinya yang diterima oleh Biro Humas dan Protokol UMY pada Senin (28/9), Rahmawati menjelaskan bahwa kemanusiaan diletakkan sebagai prinsip pertama dan prinsip dasar dalam bantuan kemanusiaan internasional. Sejalan dengan hal tersebut, kemanusiaan harus dirayakan sebagai “fitrah” manusia yang dalam perspektif Islam berarti sifat dasar manusia dimana manusia dilahirkan dengan kecenderungan bawaan, yang dirumuskan dalam fitrah sejalan dengan cinta, kasih sayang, kecerdasan, kebaikan, dan semua atribut lainnya yang membentuk manusia.

Dalam presentasinya, Rahmawati juga akan menyertakan nilai-nilai islam yang sarat akan kedamaian dan ajaran islam untuk membantu sesama, sebagai bentuk dari sifat kemanusiaan. “Seperti dinyatakan dalam Al Qur’an 107: 7 tentang “Kebaikan”; intinya bahwa orang yang meningkari agama adalah orang yang mengusir anak yatim, tidak menganjurkan untuk membantu orang miskin, menonjolkan kebaikan mereka (agar dilihat orang), dan tidak menganjurkan berbuat kebaikan. Mereka itu walaupun berdoa, mereka benar-benar pendusta agama,” terangnya. Dari surat tersebut dapat dilihat bahwa dalam perspektif Islam tindakan kebaikan dan membantu orang miskin merupakan upaya memenangkan kehidupan manusia dari ketidakberdayaan, kerentanan dan apapun yang bisa mengancam orang untuk memiliki hak berkehidupan yang layak.

Selain itu, Rahmawati juga berencana akan menyampaikan pada peserta debat panel tersebut tentang bagaimana memperkuat komitmen bersama untuk kemanusiaan. Dan hal tersebut menurutnya dapat dilakukan dengan tiga cara, yakni dengan meningkatkan kesadaran tentang nilai-nilai positif yang didorong oleh agama apapun dan peningkatan jumlah ‘militan untuk perdamaian’, bukan ‘militan untuk kekerasan’. “Yang dimaksud ‘militan untuk kekerasan’ yaitu orang yang fanatik beragama dengan cara mengorbankan hidup mereka untuk rekonsiliasi. Ini yang harus kita hilangkan,” ungkapnya.

Kemudian cara kedua yakni dengan meningkatkan dialog antaragama untuk mempromosikan saling memahami terhadap prinsip-prinsip iman dari masing-masing agama. Disamping itu, perlu ditumbuhkan pula kemitraan untuk berbagai prinsip kemanusiaan serta membangun nilai-nilai positif bersama untuk membuat model kemitraan dan kerja kolaboratif tanpa mempermasalahkan perbedaan dan dapat mencari kesamaan umum.

“Dan cara ketiga yaitu, melakukan advokasi prinsip kemanusiaan dengan meminta komitmen negara dan sistem internasional agar tidak mempolitisir kemanusiaan, menuntut kerjasama untuk meningkatkan komitmen untuk berempati. Selain itu juga meningkatkan kerja di tingkat nasional maupun lokal untuk meningkatkan tanggung jawab dan kesediaan untuk membantu, peduli dan mengakui entitas nasional setempat, karena kebanyakan dari bencana dan konflik (komunal) itu terjadi di tingkat lokal,” paparnya.

Ia juga menjelaskan bahwa semangat kebaikan untuk membantu sesama tersebut telah diadaptasi oleh organisasi Muhammadiyah, yang merupakan organisasi Islam tertua di Indonesia. Muhammadiyah telah melakukan kinerja kemanusian secara lebih intensif dan menyeluruh terutama setelah didirikan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) atau Lembaga Penanggulangan Bencana Muhammadiyah. MDMC telah membantu orang yang terkena dampak dari bencana dan konflik terlepas dari suku, ras, warna kulit atau agama, terutama di Indonesia, sebagai sebuah negara yang sangat multikultur.

“Setiap tahun MDMC melakukan kerja tanggap darurat lebih dari 15 peristiwa baik itu di perkotaan maupun pedesaan, baik di daerah mayoritas muslim ataupun mayoritas Kristen seperti di Rokatenda, Wasior, dan kawasan lainnya,” jelasnya. Ia juga menambahkan bahwa MDMC mulai bekerja secara internasional dengan mengirimkan tim medis untuk merespon Taifun Haiyan di Filipina dan gempa bumi di Nepal samping melakukan penggalangan dana untuk para korban konflik di negara-negara seperti Myanmar, Palestina dan Suriah.

Adapun debat Panel tentang kemanusiaan ini diselenggarakan dalam rangka ulang tahun organisasi Palang Merah Internasional (ICRC) ke-70 dan juga peringatan 70 tahun piagam PBB. Debat ini dipimpin oleh presiden ICRC, Peter Maurer, dengan sambutan pembuka oleh Wakil Sekjen PBB, H.E. Mr. Jan Eliasson. Lima panelist yang terlibat dalam depat panel tersebut merupakan perwakilan organisasi kemanusiaan dari negara Switzerland, Kuwait, Indonesia, Kongo dan Thailand. Debat panel tersebut diselenggarakan dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran atas nilai-nilai kemanusiaan yang diterapkan pada kebudayaan yang berbeda dan beragam. Selain itu, debat panel juga bertujuan untuk memperkuat prinsip kemanusiaan sebagai tujuan fundamental aksi kemanusiaan dalam konflik bersenjata kontemporer dan dasar hukum kemanusiaan internasional. (Deansa)