Dosen UMY berikan Pelatihan Parental Control Terhadap Gadget Untuk Kurangi Akses Pornografi

Agustus 21, 2018 oleh : BHP UMY

Kemajuan teknologi yang ada saat ini sagat lekat interaksinya dengan kehidupan sehari-hari dan banyak dari berbagai macam bentuk teknologi yang bermanfaat dalam rutinitas kita. Gadget berupa telepon genggam misalnya, merupakan perangkat utama untuk melakukan berbagai macam aktivitas mulai berkomunikasi hingga sebagai alat hiburan yang terkoneksi ke internet dan digunakan oleh pengguna dari berbagai rentang usia. Namun demikian pengguanaan gadget semacam ini harus mendapatkan pengawasan khusus apabila digunakan oleh anak agar mereka tidak terpapar bahaya yang mengintai di dunia maya, terutama bahaya pornografi.

Berangkat dari perhatian ini, Ratih Herningtyas, S.IP., M.A. dan Frizki Yulianti Nurnisa, S.IP., M.Si. memberikan pelatihan parental control kepada PRA (Pengurus Ranting Aisyiyah) Tamantirto Utara untuk mengurangi paparan pornografi kepada anak melalui gadget. “Kegiatan ini merupakan Program Kemitraan Masyarakat yang didanai oleh Dikti dan merupakan kelanjutan dari penyuluhan bahaya pornografi untuk anak yang kami laksanakan sebelumnya,” ujarnya saat diwawancarai disela-sela acara pada hari Senin (20/8) di Puskom Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Ratih menyebutkan bahwa kegiatan ini ditujukan kepada ibu dan juga Guru dari PRA Tamantirto Utara. “Mereka merupakan pihak yang berinteraksi langsung dengan anak-anak, usia yang rentan apabila terpapar konten yang mengandung pronografi. Harapannya mereka mampu menjadi garda depan pertama dalam mengontrol apa yang anak konsumsi dan juga mengurangi akses mereka terhadap pornografi. Terlebih karena ibu umumnya punya kecenderungan agar anaknya tidak rewel, anak diberi gadget supaya sibuk dan ibu bisa mengerjakan aktivitas lainnya,”jelasnya.

Frizki juga menambahkan bahwa kontrol ini perlu dilakukan karena ada banyak aplikasi yang sebenarnya memiliki konten yang tidak baik jika dikonsumsi oleh anak. “Untuk gadget berbasis Android misalnya, ada banyak game di play store yang mencantumkan bahwa game tersebut layak dikonsumsi oleh anak dalam rentang 3 tahun keatas, padahal konten di dalam game tersebut menampilakan adegan seksual. Ini tidak layak dilihat untuk anak pada umur yang masih belia. Karena apabila mereka sudah terpapar dengan pornografi dan biasa dengan hal itu, ditakutkan mereka bisa mengambil kesimpulan yang salah atau terpicu melakukan hal yang sama dengan apai dia dapatkan dalam bergaul dengan teman sebayanya,” papar Frizki.

Widani, Kepala Taman Kanak-Kanak ABA Godekan, selaku salah seorang peserta menyampaikan pelatihan ini sangat bermanfaat bagi orang tua dan pendidik. “Terutama untuk kami yang kurang paham dengan fasilitas yang ada pada gadget, pelatihan ini memberikan wawasan baru untuk tetap bisa memantau apa yang dilihat anak ketika menggunakan internet,” ungkapnya.

Selain di Tamantirto Utara, kegiatan pelatihan ini juga akan dilakukan di Bangunjiwo Barat pada akhir Agustus tahun ini.