Dosen UMY Ajukan Inovasi Perkuat Struktur Bangunan Dengan Waterglass

Desember 10, 2018 oleh : BHP UMY

Posisi Indonesia yang terletak di Cincin Api Pasifik membuat banyak wilayah negara ini rentan terhadap bencana alam seperti gempa bumi dan letusan gunung berapi. Hal tersebut tidak jarang menghasilkan kerusakan infrastruktur yang kerugiannya tidak sedikit bagi warga yang terdampak bencana semacam itu. Salah satu perhatian dalam mengatasi isu yang timbul ketika bencana alam terjadi adalah bagaimana mengembalikan keadaan infrastruktur seperti sedia kala agar aktivitas keseharian dapat segera berjalan kembali. Hal tersebut dapat dilaksanakan dengan melakukan perbaikan infrastruktur dan juga memperkuat bangunannya, ini yang menjadi ide utama yang diangkat oleh Taufiq Ilham Maulana, S.T., M.Eng. dalam paper-nya yang berjudul “Compressive Behavior of Jacketing Specimens and Flexural Behavior of Concrete Beam Strengthened using Sodium Silicate Mortar”.

Dosen Teknik Sipil (TS) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang mengampu bidang struktur dan material konstruksi tersebut menyampaikan bahwa dalam pembangunan kembali paska bencana alam terdapat beberapa solusi yang bisa diambil. Salah satunya adalah perbaikan, terutama untuk infrastruktur yang memang masih memiliki potensi seperti bangunan. “Karena banyak struktur yang dibangun di Indonesia menggunakan beton dan seringkali membangun kembali sebuah bangunan dari awal akan memakan biaya yang besar. Untuk itu perbaikan dapat menjadi solusi yang dapat diterapkan. Penelitian yang saya lakukan bersama salah seorang mahasiswa TS, Dimas Irfani, tersebut berusaha untuk mencari inovasi yang dapat diterapkan pada proses perbaikan. Tujuannya adalah proses perbaikan yang dilakukan tidak hanya sekadar memperbaiki tapi juga meningkatkan ketahanan dan juga kualitas dari bangunan tersebut,” ungkap Taufiq saat diwawancarai oleh tim Biro Humas dan Protokol (BHP) UMY pada hari Rabu (6/12).

Taufiq menjelaskan bahwa penelitian yang dilakukannya merupakan perbaikan struktur menggunakan sodium silikat atau yang juga dikenal sebagai waterglass. “Perbaikan struktur pada bangunan yang rusak, misalnya pada kolom atau tiang bangunan, menggunakan sodium silikat dapat meningkatkkan ketahanan dari struktur tersebut. Sodium silikat berfungsi untuk mengurangi porositas dengan lebih merekatkan material di dalam struktur, juga dapat membuat struktur tersebut lebih tahan air,” ujarnya.

Penelitian tersebut melakukan sebuah percobaan awal sebagai demonstrasi. “Kami membuat sebuah percobaan kecil di Laboratorium Teknik untuk melakukan pembuktian terhadap peningkatan kualitas dari struktur yang diperbaiki menggunakan campuran sodium silikat. Percobaan tersebut dilakukan dengan mengaplikasikan campuran sodium silikat dan semen dengan perbandingan 1:1, 1:2 dan 3;4 pada struktur berukuran 15 cm x 15 cm x 15 cm yang rusak. Sebagai ilustrasi misalkan struktur tersebut sebelum rusak memiliki kekuatan untuk menahan daya sebanyak 30 megapascal, kemudian struktur rusak tersebut kita perbaiki dengan mengaplikasikan campuran sodium silikat dan semen. Setelah masa tunggu 28 hari dilakukan pengetesan terhadap ketahanannya dan setelah benda uji dirusak dan diperbaiki, diketahui bahwa sodium silikat dapat meningkatkan kuat tekan sebesar 72 persen dari kekuatan awal 30 MPa tadi,” jelas Taufiq.

Taufiq menyampaikan bahwa penelitian yang dilakukan saat ini merupakan pendahuluan dan akan dikembangkan kedepannya. “Penelitian ini baru tahap awal, saya berharap ini dapat diterapkan secara full scale ke bangunan yang berfungsi secara penuh misal pada perbaikan gedung,” ujarnya. Paper yang ditulis oleh Taufiq tersebut dipresentasikan dalam The 2nd International Symposium on Civil and Environmental Engineering (ISCEE) di Malaysia pada 2 dan 3 Desember lalu. Paper tersebut juga berhasil meraih Best Paper Award untuk International Conference on Sustainable Construction and Structures (ISuCOS) 2018. (raditia)