Dosen UMY Ajak Tingkatkan Minat Baca Siswa dengan Buku Bacaan Kesukaan

Mei 27, 2019 oleh : BHP UMY

Peningkatan minat baca masyarakat terus dilakukan oleh berbagai pihak. Melalui institusi pendidikan, pemerintah juga mencanangkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) guna memobilisasi guru dan siswa selama 15 menit membaca sebelum pelajaran dimulai. Dalam pelaksanaan GLS, ada dua hal menarik yaitu kebebasan guru serta siswa dalam memilih bacaannya dan jenis bacaan yang tidak melulu menekankan pada teks-teks akademis. Oleh karena itu, tim pengabdian kepada masyarakat Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang dilakukan oleh dosen Pendidikan Bahasa Arab (PBA) dan Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) melaksanakan kegiatan membaca di SMA Negeri 1 Kasihan, Bantul pada bulan Februari sampai April 2019.

Dihubungi oleh tim Biro Humas dan Protokol UMY, sebagai ketua tim pengabdian kepada masyarakat Lanoke Intan Paradita, S.S., M. Hum, mengatakan bahwa tujuan dari kegiatan tersebut adalah untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih banyak pada siswa. “Dalam rangka memperkuat pelaksanaan GLS, melalui pengabdian masyarakat ini kami melaksanakan kegiatan membaca di SMAN 1 Kasihan. Di dalam program yang didanai oleh Lembaga Penelitian, Publikasi, Penerbitan dan Pengabdian Masyarakat (LP3M) UMY ini, tim pengabdian yang terdiri dari dosen PBA dan PBI serta beberapa mahasiswa PBI UMY merancang kegiatan lanjutan membaca (post-reading activities) yang bertujuan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih banyak pada siswa,” terang Lanoke.

“Selain merancang kegiatan pasca baca, tim pengabdian juga memperkenalkan siswa dengan Graded Readers atau bacaan berjenjang berbahasa Inggris. Buku-buku ini dirancang khusus untuk belajar Bahasa Inggris karena bacaan berjenjang memiliki tingkat kesulitan kosakata yang berjenjang, sehingga siswa dapat memilih buku yang sesuai untuk dibaca, baik dari tingkat kesulitan dan dari jenisnya,” lanjutnya.

Lanoke menambahkan bahwa siswa diperbolehkan untuk memilih buku bacaan yang ingin dibaca. “Siswa tidak dipaksa untuk membaca buku yang tidak disukainya. Bahkan siswa boleh saja mengganti buku yang sedang dibaca dengan buku lain yang menurutnya lebih menarik, atau lebih mudah untuk dipahami. Buku-buku yang dibaca juga bukan buku pelajaran, melainkan buku-buku cerita dengan genre yang beragam. Membaca karya-karya fiksi merupakan salah satu cara untuk menarik siswa menyukai membaca, karena tidak seperti teks akademis, karya fiksi banyak melibatkan dan mengeksplorasi emosi melalui alur cerita dan penokohan yang dapat membuat larut pembacanya,” tambah Lanoke.

“Kegiatan lanjutan membaca dapat dimanfaatkan untuk banyak hal seperti latihan berbicara dan menulis. Akan tetapi, yang terpenting dalam kegiatan ini adalah untuk memberikan makna bagi siswa terhadap bacaannya sehingga mereka bisa merasa memiliki cerita tersebut. Ketika mereka mulai menyenangi kegiatan membaca, diharapkan motivasi membaca siswa terutama bacaan berbahasa Inggris dapat meningkat,” imbuhnya.

Lanoke mengatakan bahwa di akhir kegiatan, tim pengabdian kepada masyarakat UMY mengajak para siswa untuk mengkampanyekan anti bullying dengan membuat poster berdasarkan cerita yang mereka baca. (CDL)