Dosen dan Mahasiswa FEB UMY Presentasikan Hasil Penelitian di BI

Agustus 29, 2017 oleh : BHP UMY

Sejalan dengan tagline UMY “Unggul dan Islami”, dosen dan mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UMY berhasil mempresentasikan hasil penelitiannya dalam event “The 11th International Conference Bulletin of Monetary Economics and Banking” yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia pada Kamis (24/8) yang lalu di Jakarta. Dalam acara tersebut, delegasi UMY yang diketuai oleh Dimas Bagus Wiranata Kusuma selaku dosen Prodi Ilmu Ekonomi FEB UMY, mempresentasikan hasil penelitiannya yang berjudul “Building Islamic Banking Resilience Index in Indonesia”.

Menurut Dimas, pada kesempatan tersebut delegasi UMY memaparkan bahwa di tengan kondisi perekonomian yang tidak pasti ini, diperlukan sebuah alat pengawasan (surveillance tools) yang berfungsi tidak hanya sebagai alarm resiko, namun juga metode memitigasi terjadinya systemic risk. “Membangun sebuah indeks ketahanan (Resilience Index) terutama pada Perbankan Syariah menjadi fokus utama dalam penelitian yang kami lakukan. Hasil penelitian kami ini pada akhirnya merekomendasikan kepada Bank Indonesia bahwa ketahanan perbankan Syariah di Indonesia masih belum kokoh, di tengah ketidakpastian global. Dan yang kedua, diperlukan ketahanan di bidang permodalan dan liquiditas untuk memperkuat daya tahan terhadap ketidakstabilan global,” jelasnya, melalui rilis yang diterima Biro Humas UMY pada Selasa (29/8).

Dimas juga menyampaikan, selain pemaparan dari para presenter, konferensi internasional tersebut juga menghadirkan Gubernur Bank Indonesia, serta beberapa pembicara nasional dan internasional seperti Perry Warjiyo dari Bank Indonesia, Prof. Hal Hill dari Australian National University, Adrew Sheng dari The University of Hong Kong, dan Prof. Ari Kuncoro dari Universitas Indonesia. “Secara umum, kesemua pemateri tersebut menyoroti aspek vulnerability, uncertaintly, complexity, dan ambiguity (VUCA) yang melanda perekonomian global. Di tengah VUCA ini diharapkan perekonomian Indonesia tetap dapat bertahan (resilience) dan tetap mampu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi,” ungkapnya lagi.

Selain itu, imbuh Dimas lagi, dalam diskusi tersebut juga dihasilkan beberapa saran yakni mendorong ketahanan lembaga keuangan; membuat indikator yang menjadi pengawasan (surveillance) terhadap ketahanan sistem keuangan; serta meningkatkan kerjasama dan koordinasi antar negara. “Dengan demikian, di tengah VUCA ini peningkatan sinergi antar negara bisa menjadi sebuah cara terbaik, untuk memelihara ketahanan dan momentum pertumbuhan ekonomi,” imbuhnya.

Adapun konferensi internasional tersebut merupakan event tahunan yang rutin diselenggarakan oleh Bank Indonesia Institute. Tahun ini, event tersebut mengangkat tema “Sinergy on the VUCA World: Maintaining the Resilience and Momentum of Economic Growth“. Event yang cukup prestigius ini diikuti oleh 24 presenter terpilih dari 130 tulisan yang masuk dari berbagai negara, diantaranya dari Indonesia, Turki, Kazakhstan, Inggris, Kyrgiztan, Spanyol, dan Amerika Serikat.

Sharing is caring!