Ciptakan Budaya Damai Melalui Dialog Antaragama

Desember 2, 2016 oleh : BHP UMY

umy-sesi-6-mgps

Dunia saat ini bagaikan desa kecil dengan orang-orang maupun agama yang berbeda, sehingga harus mampu hidup berdampingan sebagai bagian dari masyarakat global. Seperti yang disampaikan oleh Dr. Martino Sardi, MA., dengan adanya dialog antaragama dapat menanamkan kolaborasi dalam kehidupan yang lebih damai dan harmonis.

“Dalam berdialog antaragama kita juga harus mempertimbangkan eksistensi kelompok sosial yang berbeda dalam ras, suku, kebangsaan dan agama, yang membawa potensi persaingan dan konflik diantara mereka. Masyarakat harus mampu mengatasi ketegangan antar kelompok dan potensi negatif melalui silaturahim dan komitmen untuk hidup bersama dalam damai dan keadilan. Dengan kata lain merespon keberagaman melalui perlibatan yang positif atau dialog,” ujarnya pada dialog antaragama Mahathir Global Peace School (MGPS) di Institut DIAN Interfidei, Kamis (1/12).

Semua agama di dunia memiliki doktrin perdamaian, akan tetapi terdapat pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dan penyerangan yang didasarkan pada interpretasi doktrin agama. Seperti yang dicontohkan oleh Dr. Martino, pelanggaran HAM seperti pembunuhan maupun genosida. “Tindakan kriminal ini akan tumbuh lebih buruk jika pemerintah memprovokasi dan mengambil bagian dalam hal tersebut. Pemerintah juga tidak menghalangi dan menghentikan mereka meskipun mereka bisa melakukannya,” jelasnya.

Dr. Martino melanjutkan, budaya perdamaian sebagai pendekatan yang menyeluruh untuk mencegah kekerasan dan konflik. Dalam pencegahan itu dapat melalui pendidikan perdamaian. “Dalam prespektif pendidikan perdamaian, diperlukan saling toleransi antaragama, sehingga memunculkan sikap kebersamaan. Pelaksanaannya juga perlu menghormati HAM, gender, maupun partisipasi demokrasi,” lanjutnya.

Sementara itu direktur DIAN Interfidei, Elga J. Sarapung mengatakan bahwa dialog merupakan salah satu pilihan yang ideal untuk mengelola perbedaan. “Dalam dialog kita mengakui dan menerima perbedaan dan bersedia belajar tentang perbedaan itu sendiri. Dari perbedaan itulah muncul kebersamaan,” papar Elga.

Dalam berdialog, Elga menyebutkan terdapat tiga kekuatan dalam berdialog yang sehat. “Terdapat tiga kunci kekuatan dalam berdialog. Diantaranya yaitu diperlukan pikiran yang sehat, hati nurani yang tulus dan jujur, serta sikap bijaksana, terbuka, dan rendah hati,” sebutnya. (Hv)