Buya Syafi’i : Sila ke-5 Pancasila Terlantar

Mei 23, 2016 oleh : BHP UMY

2V6C3405

Indonesia sudah merdeka lebih dari 70 tahun dan mengalami banyak kemajuan. Namun, menurut Ahmad Syafii Maarif, ada sebuah masalah yang dihadapi oleh bangsa ini. Menurutnya, bangsa ini tidak mampu berpikir tesis, sintesis, dan antitesis. “Bangsa ini harus meneruskan apa yang baik dari Soekarno, Habibie, Megawati, dan yang lain. Tapi bangsa Indonesia tidak mau belajar dari sejarah,” kata Buya Syafii dalam Dialog Kebangsaan Konvensi Nasional Indonesia Berkemajuan pada Senin malam, (23/5/2016) di Sportorium UMY.

Buya Syafii juga menyoroti tentang pidato Presiden Joko Widodo pada pembukaan Konvensi Nasional Indonesia Berkemajuan Senin siang yang menurutnya sudah sangat bagus yang menyinggung tentang pembangunan SDM, infrastruktur, termasuk juga deregulasi. Namun, ia menyayangkan Presiden tidak menyinggung tentang dasar negara ini. “Beliau tidak menyinggung tentang keadaan bangsa ini yang tidak sesuai dengan UUD 1945 dan Pancasila. Sila ke-5 Pancasila saya rasa terlantar. Biarpun ada infrastruktur dan SDM yang berkualitas, kalau sila ke-5 terlantar saya rasa kita berkhianat pada bangsa Indonesia,” tutur Buya.

Secara politik, Indonesia dipuji demokrasinya karena pemilu-pemilunya berjalan dengan baik. Namun, menurut Buya, hasil pemilu dan pelaku-pelakunyalah yang membuat demokrasi Indonesia tercoreng. “Selama politik masih menjadi mata pencaharian tidak akan mencapai demokrasi yang utuh,” ujar Buya.

Buya melanjutkan, Indonesia ini adalah milik kita. Alquran, lanjut Buya, adalah kitab suci yang pro pada kemiskinan namun juga anti kemiskinan dalam waktu bersamaan. “Pro artinya bahwa dalam perintahnya tidak ada yang namanya terima zakat, terima infaq. Namun, yang ada hanyalah beri zakat, beri infaq. Indonesia ini mempunyai banyak warga Muslim, kemiskinan harus bersifat sementara jangan sampai permanen,” tutup Buya.