Buya Syafi’I Ma’arif: Harus Ada Perubahan Besar, Jika Ingin Bertahan Sampai Sehari Sebelum Kiamat.

November 13, 2012 oleh : BHP UMY


Untuk memajukan kondisi Bangsa Indonesia dibutuhkan pemikiran-pemikiran kritikal. agar tujuan kemerdekaan bangsa Indonesia yang telah berusia 67 tahun dapat tercapai. Selain itu, jika Indonesia ingin bertahan sampai sehari sebelum kiamat datang, harus ada perubahan besar dalam tubuh bangsa ini, harus ada pergantian kepemimpinan dan mencari pemimpin yang terbaik.

Demikian diungkapkan Buya Syafi’I Ma’arif dalam acara Launching dan Diskusi Buku “NATION IN TRAP Menangkal ‘Bunuh Diri’ Negara dan Dunia Tahun 2020 karya Ir. Effendi Siradjuddin alumni Institut Teknologi Bandung dan seorang entrepreneur. Acara yang diselenggarakan oleh Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah bekerjasama dengan PUSHAM Universitas Islam Indonesia (UII) ini bertempat di Lobi Bawah kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah jalan Cik Ditiro No.23, Selasa (13/11).

Senada dengan Buya Syafi’i, perwakilan PP Muhammadiyah, Dr. Agung Danarto juga mengatakan bahwa adanya diskusi buku tersebut merupakan kontribusi untuk memperkaya wacana masyarakat agar tidak salah pilih dan salah jalan dalam memilih pemimpin negeri ini. “Launching dan diskusi buku seperti ini yang kita tunggu-tunggu untuk memberi pencerahan dan wacana pada kita, agar kita bisa sukses di masa depan,” katanya.

Bachtiar Dwi Kurniawa, MPA (MPM Muhammadiyah) selaku pembedah buku NATION IN TRAP juga mengiyakan tanggapan Buya Syafi’i Maarif, bahwa kondisi bangsa dan dunia yang seperti saat ini adalah tantangan bagi generasinya dan generasi setelahnya, dan perubahan memang mutlak dibutuhkan. “ Bagi saya, kalau gerakan-gerakan seperti Muhammadiyah, Nahdhatul Ulama, dan lainnya serta para agamawan dan intelektual dapat bergerak bersama-sama, maka akan ada revolusi kedua di Negeri ini,” tegasnya.

Buku NATION IN TRAP ini merupakan hasil telaah pemikiran Ir, Effendi Siradjuddin selama 10 tahun dengan 188 buku referensi yang telah dibacanya. Buku ini ditulis atas dasar kegalauan terhadap fenomena ketergantungan manusia atas apapun, sehingga kadaulatan yang dimiliki kalangan akar rumput di berbagai negara sudah kehilangan arti.

Effendi menyatakan dalam bukunya bahwa fenomena nation in trap ini ditandai dengan munculnya aneka masalah yang serba menyengsarakan sebagian besar warga negara maupun warga dunia secara keseluruhan. “Kesengsaraan terjadi sebagai akibat dan di tengah makin merajalelanya para pemilik modal dalam perlombaan menguasai sumber ekonomi negara dan dunia, yang semata hanya demi kepentingan pribadi,” ungkapnya.

Dibutuhkan langkah-langkah fundamental yang bisa merubah sistem dunia dan negara, dan harus ada perubahan mendasar. “Menurut yang saya teliti perubahan mendasar itu dengan mengembalikan fungsi negara seperti yang diharapkan oleh para founding father atau para pendahulu dan pendiri,” tuturnya.

Namun untuk bisa mencapai hal itu, effendi mengatakan bahwa dibutuhkan produktivitas negara yang tinggi dan hal itu bisa dilakukan dengan tiga cara. Negara harus ada dalam paket pemerintahan yang memiliki sistem dan menghasilkan sistem yang terbaik, harus ada program-program yang tertulis selama 2-3 tahun sebelum penyelenggaraan pemilihan umum. “Dan apa yang dirumuskan oleh koalisi partai harus disampaikan pada rakyat, 6 bulan atau 1 tahun sebelum pemilihan umum. Jadi kampanye bukan hanya untuk pencitraan belaka,” ujarnya.

Effendi juga menambahkan jika ketiga cara itu bisa diterapkan di Indonesia, maka perkataan Soekarno akan benar-benar terwujud. “Kalau Indonesia berhasil menerapkan cara tersebut maka Indonesia bisa menjadi inspirator dunia,” tambahnya.

Buku yang akan diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris dan Bahasa Arab ini juga dibedah oleh Prof. Dr. Heru Nugroho (Guru Besar Sosiologi UGM), Dr. Hendri Saparini (Direktur ECONIT, Jakarta), serta Bachtiar Dwi Kurniawan, MPA (MPM PP Muhammadiyah).