Bupati Yoyok : Elit Politik Harus Awali Demokrasi Tegak Lurus

September 9, 2016 oleh : BHP UMY

img_8878

Bupati Batang, Yoyok Riyo Sudibyo saat menjadi pembicara masa ta’aruf (Mataf) jurusan Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menegaskan bahwa menegakkan demokrasi yang tegak lurus, harus diawali dengan elit politik bukan rakyatnya. Sebab, menurut bupati yang akrab disapa Yoyok tersebut mengatakan, rusaknya demokrasi saat ini sangat dipengaruhi oleh etika para elit politik, seperti saat pemilu banyaknya para elit politik yang melakukan money politik.

“Rusaknya masyarakat ini bukan masyarakatnya yang sakit, tetapi elitnya yang mengajari. Ada harapan untuk memperbaiki demokrasi, asal ada elitnya yang mengajarkan. Apalagi ditambah saat ini masyarakat sudah menilai, Indonesia yang bermain adalah politik, bukan hukum. Padahal salah satu dasar di negara kita ini adalah negara hukum. Hal ini menjadikan kepercayaan masyarakat pada pemerintah persentasenya hanya ada di bawah 50 persen,” ujar Yoyok, Kamis (08/09) di Lapangan Bintang UMY.

Yoyok melanjutkan, tragedi demokrasi di Indonesia saat ini adalah apabila ada yang ingin menjadi pemimpin rakyat, ilmu kepemimpinan tidak penting. Saat ini hanya diperlukan tiga syarat untuk memimpin. Diantaranya yaitu adanya popularitas, elektabilitas, dan uang. “Meskipun saat ini menjadi pemimpin tidak sesuai dengan ilmu yang dimiliki tentang kepemimpinan pemerintah, namun pemimpin harus memiliki sisi kreatif dan inovasi,”lanjutnya.

Menurutnya, seorang elit politik yang memimpin rakyatnya harus menjadi guru, bapak, dan juga harus menjadi komandan dengan memberikan punishment dan reward kepada seluruh rakyatnya. “Seorang pemimpin kadang-kadang juga harus menjadi adik. Kalau bener tapi salah yo dibenerke, (kalau benar menurutnya, namun salah menurut rakyat ya harus dibenarkan, red),”tandas bupati yang mendapatkan anugerah antikorupsi pada 5 November 2015 lalu.

Mataf IP yang bertajuk “Membentuk Karakter Pemimpin Kreatif untuk Rakyat Proaktif,” Yoyok kembali mengatakan, untuk menjadi seorang pemimpin harus memiliki karakter yang kuat. Serta janganlah menjadi pemimpin yang meletakkan kaki di dua kapal yang berbeda. “Karakter dasar manusia selalu minta yang banyak, seperti masih miskin ingin kaya. Seperti yang disarankan oleh teman saya, menjadi pemimpin harus fokus pada satu tujuan saja. Pemimpin tidak bisa sekaligus menjadi pengusaha. Ini karena tanggungjawab seorang pemimpin itu sangatlah berat. Meskipun kata ibu saya, pangkat bupati itu ringan, seringan bulu ayam,” paparnya.

“Harapan saya setelah menjadi bupati, saya akan melahirkan pemimpin yang lebih baik dari saya. Tentunya harus mampu melahirkan pemimpin layaknya bapak, guru, maupun komandan,” harap Yoyok. (hv)