Bupati Berau Ajarkan Mahasiswa UMY Jadi Pemimpin yang Cerdas

Oktober 21, 2017 oleh : Una

Kepemimpinan mengajarkan seseorang menjadi lebih bertanggungjawab dalam segala hal. Inilah yang menjadi tujuan utama acara yang digagas oleh Pascasarjana, Jusuf Kalla School of Government (JKSG) UMY dengan mengundang Bupati Berau, Muharram, untuk menjadi pembicara dalam acara kuliah umum yang diselenggarakan pada Jumat (20/10) lalu di Gedung Kasman Singodimejdo, Kampus Terpadu UMY.

Diawal sesi, Muharram berpesan kepada mahasiswa bagaimana kesuksesan yang ia dapatkan. “Kalau mau jadi orang yang sukses, lakukan dua hal. Kalau mau melejit dan terjadi lompatan prestasi dan kesuksesan, maka yang pertama yang harus dilakukan yakni mau keluar dari rutinitas sehari-hari dan jangan selalu di zona nyaman,” ungkap Muharram.

Seorang pemimpin harus melakukan dua hal yang terpenting, bekerja secara professional dan loyal. “Mungkin untuk pemimpin yang tidak bekerja secara professional, masih bisa diperbaiki dan diampuni, namun jika seorang pemimpin sudah tidak loyal, maka kita harus carikan tempat yang layak di sisiNya,” gurau Muharram yang dibarengi dengan tawa para mahasiswa dan dosen.

Bupati Berau juga menjelaskan bahwa pengelolaan negara mirip dengan miniature sebuah  rumah tangga. “Ibarat orangtua, tugas seorang leader atau pemimpin itu mengayomi dan melindungi, yang kedua bagaimana agar anaknya hidup layak sejahtera, dan yang ketiga membuat anaknya bahagia dan tentram, begitu pula kehadiran seorang pemimpin kepada rakyatnya” jelasnya.

“Tanamkan di dalam otak kita bahwa tujuan utama menjadi pemimpin bukan hanya sebatas mencari uang dan mencari nafkah, tapi bayangkan seluruh rakyat adalah anaknya, Menjadi leader yang cerdas dan menjadi leader yang solutif. Dan satu lagi, menjadi seorang pemimpin, jangan sampai merasa besar kepala. Kebanyakan seorang pemimpin baru, mereka merasa menjadi segala-galanya,” imbuhnya.

Dalam kesempatan yang sama, dosen Ilmu pemerintahan, Sakir, S.IP., M.IP., sependapat dengan pernyataan Bupati Bureau bahwa kepemimpinan haruslah dengan cinta dan kebersamaan. “Cinta bermakna bahwa menjadi kepala itu harus mencintai bawahannya, meskipun ketika saat Pemilukada tidak mendukungnya. Karena hal itu penting dalam mencapai visi misi kepala daerah. Kalau kebersamaan bermakna bahwa dalam menjalankan roda pemerintahan itu harus bersinergi dari semua pihak. Bukan semata-mata hanya kepala daerah saja. Selain itu, kebersamaan itu penting untuk menumbuhkan rasa nyaman kepada bawahannya,” ungkapnya.

Sakir juga berpesan kepada mahasiswa khususnya di Program Studi Ilmu Pemerintahan untuk menjadi seorang pemimpin yang visioner, komitmen dan konsisten. “ Kepada seluruh mahasiswa, kedepannya ketika menjadi seorang pemimpin, harus visioner, memiliki komitmen dan konsisten dalam memanusiakan rakyatnya, seperti pembangunan yang adil, pemenuhan pelayanan dasar yang dapat diakses oleh semua rakyatnya, terwujudnya kemandirian negara/daerah. Dan yang terakhir harus menjadi pemimpin yang memiliki komitmen pada gerakan literasi.” tutupnya. (Darel)

Sharing is caring!