Budidaya Lele Jadi Program Unggulan MPP PCM Jatianom dan MPM PP Muhammadiyah Yogyakarta

Mei 15, 2015 oleh : BHP UMY

IMG_0145

Melakukan budidaya lele saat ini bukan hal yang biasa lagi, karena ada beberapa di sejumlah daerah yang melakukan budidaya lele yang tujuannya untuk mensejahterakan masyarakat sekitar. Hal inilah yang kemudian menjadi program unggulan yang dipilih oleh Majelis Ekonomi dan Pemberdayaan Masyarakat PCM Jatianom, Klaten untuk mengembangkan pendederan ikan lele unggul di desa Jatianom. Program ini juga merupakan program kerja sama yang dilakukan oleh Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah Yogyakarta. “Karena kami bergerak pada bidang pemberdayaan yaitu terkait dengan pertanian, perikanan, dan pertenakaan. Sedangkan untuk Jatianom sendiri memilih penebaran bibit dan pemanenan lele, “ jelas Shofiatini selaku Ketua Pemberdayaan Majelis Ekonomi dan Pemberdayaan Masyarakat PCM Jatianom saat di wawanarai pada Kamis (15/5) di desa Jatianom.

Program tersebut juga didukung penuh oleh Prof. Dr. H. M. Amin Rais yang juga merupakan tokoh Muhammadiyah. “Alhamdulillah saya bisa menegok dan hadir dalam acara yang diselenggarakan oleh Majelis Ekonomi dan Pemberdayaan Masyarakat PCM Jatianom dan MPM Yogyakarta, saya sangat mendukung program tersebut, karena program ini sangat bagus. Saya berharap program ini bisa berjalan terus dan dengan program ini masyarakat yang berada di desa Jatianom ini dapat mandiri, “ terangnya.

Shofiatin menjelaskan bahwa, dari Majelis Ekonomi Pemberdayaan Masyarakat PCM Jatianom memang memiliki yang salah satu programnya adalah pemberdayaan dan pendampingan budidaya lele. Sebetulnya budidaya lele ini dibagi menjadi 3 kelompok yaitu pemijahan, pendederan, dan pembesaran. Dua tahun yang lalu program yang sudah berjalan yaitu pada pemijahan dan pendederan. “Pemijahan sendiri adalah mengkawinkan indukannya kemudian menghasilkan anakan lele dengan ukuran sampai 2 cm, setelah sudah mencapai 2 cm kemudian dikirim ke kelompok pendederan, yaitu memelihara sampai ukurannya mencapai 7 cm, ketika sudah pada tahap ini berarti sudah menjadi bibit dan siap ditebar di kelompok pembesaran. “ jelasnya.

Pada tahap pembesaran ini tentunya ada hal-hal yang perlu dipersiapkan salah satunya menyiapkan pakan yang baik untuk pembesaran lele. “Setelah sekian lama akhirnya tahun ini kami mendapatkan pakan alternatif untuk menggantikan pelet dari pabrikan yang harganya sangat tinggi saat ini. Pakan alternatif ini berbahan baku ampas tahu yang difermentasikan dengan probiotik dan tambahan pakan organik selikat dengan PTO. Untuk pakan alternatif ini kami sudah punya tim sendiri dalam membuat probiotik dan organik selikat. Jadi, tugas kita hanya tinggal mengaplikasikan ampas tahu tersebut dengan cara difermentasi, “ paparnya.

Shofiatin menambahkan, alasan mereka memilih ampas tahu ini adalah karena mudah didapat karena sebagian warga desa Jatianom sudah mengerti, lagi pula harganya juga sangat murah jadi mudah dijangkau. Ampas tahu ini juga memiliki kandungan protein yang sangat tinggi yaitu sekitar 18%-20%. “Namun sayangnya jika hanya ampas tahu saja dengan jumlah protein tersebut tentunya sangat kurang, kemudian kami berfikir lagi bagaimana cara meningkatkan kandungan protein yang tinggi pada ampas tahu tersebut. Akhirnya muncullah cara yaitu dengan melakukan fermentasi, hasil fermentasi tersebut akan menghasilkan belatung yang memiliki kandungan protein sekitar 40%. Dengan kata lain maka si ikan memiliki kandungan gizi yang sama ketika makan pelet. Keuntungan lainnya adalah ikan akan tumbuh lebih besr karena ikan tersebut makan protein hiduo yang masih murni serta ini akan mempersingkat waktu panenya,” imbuhnya.

Shofiatin juga menjelaskan, pelaksanaan program ini melibatkan pemuda dan warga sekitar, pihaknya juga akan mengadakan pelatihan bagi pemuda atau warga yang berminat untuk budidaya lele. “Dalam program ini kami akan memfasilitasi dan mendampingi secara keseluruhan yaitu dari hulu ke hilir. Misalnya dari persiapan indukannya sampai pengadaan pendederan serta bagaimana penjualannya setelah lele ini layak untuk dijual. Jadi, intinya adalah program ini akan mencakup semuanya dan menanganinya dalam satu pintu, mereka tidak usah ambil pusing, yang mereka pikirkan hanya bagaimana memelihara dan menjadikan ikan ini sehat, “ jelasnya.

Shofiatin berharap program ini bisa menjadi program unggulan MPM serta mendukung penuh acara Muktamar Muhammadiyah ke-47 yang akan dilaksanakan di Makassar. “Kegiatan ini juga menjadi gong untuk mempromosikan bahwa kami melakukan sesuatu hal yang positif untuk warga desa Jatianom. S​emoga program ini bisa menginspirasi untuk desa-desa lainnya, sehingga kita bisa bermitra lagi. Kami harap program ini juga nantinya dapat diperkenalkan saat acara Mukmatamar Muhammadiyah ke-47 di Makassar, “ harapnya.