Broadcasting 2015 IK UMY Perlihatkaan Kehidupan Melalui Film Dokumenter

Mei 11, 2018 oleh : BHP UMY

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Konsentrasi Broadcasting UMY kembali menyelenggarakan festival film dokumenter yang bertajuk Parade Dokumenter #2 (PARADOK#2) di Gedung Societet TBY pada Rabu (9/5). Fesival film ini menayangkan 7 film dokumenter yang merupakan hasil keluaran dari mata kuliah dokumenter. Ke-7 film tersebut merupakan karya dari 7 kelompok mahasiswa konsentrasi Broadcasting 2015 dan hadir sebagai penyaji sudut pandang yang berbeda dari film-film mainstream.

Ricky Putra Harahap mahasiswa Broadcasting 2015 selaku ketua panitia PARADOK#2 mengugkapkan Fatamorgana sebagai tema dari PARADOK#2 ini. “Fatamorgana merupakan sesuatu yang semu atau bayangan yang tampak seperti ada tapi sebenarnya tidak ada. Paradok tahun ini mengusung tema tersebut karena sebagai manusia banyak memandang kehidupan hanya dari kejauhan dan tidak mengetahui kebenaranya, sehingga kita harus mendekatkan diri untuk mengetahui lebih jauh apa sebenarnya yang terjadi dalam kehidupan tersebut,” ungkapnya. Ke-7 film yang ditayangkan dalam PARADOK#2 ini yaitu Samar, Sinawang, Sempirit, Warisan, Antara, Selling Dealing, dan Simbiosis.

Ricky menambahkan dengan hadirnya PRADOK#2 ini menjadi bukti bahwa masih banyak mahasiswa atau peajar yang tertarik dengan film dokumenter. Walaupun sebenarnya fim dokumenter sendiri masih segmented. Padahal jika dibandingkan dengan film mainstream, film dokumenter itu lebih menarik untuk di diskusikan. Oleh karena itu hal ini menjadi tantangan bagi mahasiswa Broadcasting untuk bertindak dan melakukan gerakan literasi melalui film dokumenter. “Kami berharap melalui paradok ini film maker muda dapat menjadikan acara ini sebagai acuan untuk membuat festival serupa. Harapanya juga untuk tahun depan bukan hanya untuk internal namun juga open untuk film-film dari kampus lain, dan semoga dengan adanya paradox ini bisa jadi momentum untuk membangkitkan kembali flm dokumenter dan pegiat film dokumenter semakin bertambah,” ungkap Ricky.

Hal senada juga disampaikan oleh Budi Dwi Arifianto, S. SN ,M. SN atau yang kerap disapa Mas Tobon selaku dosen pengampu matakuliah documenter. Tema fatamorgana kehidupan yang diangkat telah terbagi mejadi 3 kategori. “Sebenernya tema ini muncul dengan sendirinya dengan kita coba membuka seluas-luasnya paradok sekarang ini. Dan kami temukan ada satu garis merah tentang potret kehidupan yang bisa di lihat di sini. Yakni dari 3 slot film yang merupakan bagian dari sumber kehidupan, nilai kehidupan, dan jalan kehidupan,” jelasnya.

Tobon juga menyampaikan bahwa film dokumenter hadir untuk literasi dan perubahan. “Film dokumeter itu bukan main-main, karena kita meminjam kehidupan orang lain. Di balik itu, kita membuat film ini juga tidak untuk narsis tapi untuk gerakan literasi, untuk persuasi, dan untuk membuat masyarakat lebih baik. Seperti kritik terhadap pemerintah agar bisa menuju ke arah yang lebih baik untuk perubahan,” ungkapnya. (pras)