Berada di Daerah Konflik, Jurnalis Harus Berani Mati

September 23, 2012 oleh : BHP UMY

Dalam melakukan peliputan didaerah konflik, seorang jurnalis harus menyiapkan mental jiwa dan raganya untuk mendapatkan berita yang terbaik. Jurnalis didaerah konflik harus siap menerima resiko terburuk bahkan jika harus kehilangan nyawanya hanya demi sebuah berita.  Dengan kata lain jurnalis juga berani mati demi memberikan informasi yang akurat kepada masyarakat.

Hal ini disampaikan oleh Fery Santoro selaku Juru Kamera RCTI yang pernah menjadi sandera tentara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) tahun 2003. Fery menyampaikannya dalam Seminar Nasional yang bertema “Jurnalisme Konflik : Konsep dan Aplikasi Peliputan di Ranah Konflik” yang diadakan oleh Korps Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (KOMAKOM UMY) di ruang sidang AR. Fakhrudin B Kampus terpadu UMY, Sabtu, (22/9). Acara ini dihadiri oleh sejumlah mahasiswa dan dosen UMY.

Selain Fery, hadir pula sebagai narasumber Noni Arni dari Peace and Conflict Journalism Network , dan Bambang MBK dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Seminar ini merupakan rangkaian acara dari communication awards yang bertujuan agar mahasiswa dapat menguasai tentang konsep dan aplikasi sensitive dari sebuah jurnalis konflik.

Dalam kesempatannya Ferry menceritakan tentang apa yang harus ia lakukan sebagai seorang juru kamera bersama rekannya Ersa Siregar  sebagi reporter yang waktu itu tewas tertembak oleh pasukan GAM. “Saat diberikan tugas kami selalu siap, dan saat itu tugas yang diberikan adalah melakukan peliputan pada konflik menghadapi pasukan GAM yang pada ahirnya menewaskan rekan Ersa Siregar” ungkapnya.

Bambang dari Aliansi Jurnalis Independen juga menegaskan bahwa  jurnalis itu sebenarnya tidak akan membawa kedamaian di daerah konflik tetapi  jurnalis hanya akan  menulis berita dengan benar, akurat dan sesuai dengan kode etik jurnalistik. “Para jurnalis akan berusaha mengemas berita tentang konflik tersebut agar tidak membuat emosi masyarakat semakin meledak, mereka akan memberitakan konflik tersebut bukan dari sisi korban tetapi akar permasalahan yang menimbulkan terjadinya konflik tersebut,” tegasnya.

Sementara itu Noni dari Peace and Conflict Journalism Network menjelaskan bahwa belakangan ini banyak muncul media industri  yang membuat para jurnalis melupakan kode etik jurnalistik. Mereka hanya berpikir tentang keuntungan dan rating dari berita yang disampaikan dengan mengindahkan keakuratan dari berita tersebut. “Para jurnalis sampai lupa bagaimana cara mengemas berita berdasarkan fakta-fakta yang ada sehingga menimbulkan kegelisahan orang yang menkonsumsi media selain itu wartawan juga saat ini sudah tidak lagi menerapkan standar jurnalistik hingga menyebabkan opini publik yang mengawang,” jelasnya.

Dalam melakukan peliputan didaerah konflik, seorang jurnalis harus menyiapkan mental jiwa dan raganya untuk mendapatkan berita yang terbaik. Jurnalis didaerah konflik harus siap menerima resiko terburuk bahkan jika harus kehilangan nyawanya hanya demi sebuah berita.  Dengan kata lain jurnalis juga berani mati demi memberikan informasi yang akurat kepada masyarakat.

Hal ini disampaikan oleh Fery Santoro selaku Juru Kamera RCTI yang pernah menjadi sandera tentara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) tahun 2003. Fery menyampaikannya dalam Seminar Nasional yang bertema “Jurnalisme Konflik : Konsep dan Aplikasi Peliputan di Ranah Konflik” yang diadakan oleh Korps Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (KOMAKOM UMY) di ruang sidang AR. Fakhrudin B Kampus terpadu UMY, Sabtu, (22/9). Acara ini dihadiri oleh sejumlah mahasiswa dan dosen UMY.

Selain Fery, hadir pula sebagai narasumber Noni Arni dari Peace and Conflict Journalism Network , dan Bambang MBK dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Seminar ini merupakan rangkaian acara dari communication awards yang bertujuan agar mahasiswa dapat menguasai tentang konsep dan aplikasi sensitive dari sebuah jurnalis konflik.

Dalam kesempatannya Ferry menceritakan tentang apa yang harus ia lakukan sebagai seorang juru kamera bersama rekannya Ersa Siregar  sebagi reporter yang waktu itu tewas tertembak oleh pasukan GAM. “Saat diberikan tugas kami selalu siap, dan saat itu tugas yang diberikan adalah melakukan peliputan pada konflik menghadapi pasukan GAM yang pada ahirnya menewaskan rekan Ersa Siregar” ungkapnya.

Bambang dari Aliansi Jurnalis Independen juga menegaskan bahwa  jurnalis itu sebenarnya tidak akan membawa kedamaian di daerah konflik tetapi  jurnalis hanya akan  menulis berita dengan benar, akurat dan sesuai dengan kode etik jurnalistik. “Para jurnalis akan berusaha mengemas berita tentang konflik tersebut agar tidak membuat emosi masyarakat semakin meledak, mereka akan memberitakan konflik tersebut bukan dari sisi korban tetapi akar permasalahan yang menimbulkan terjadinya konflik tersebut,” tegasnya.

Sementara itu Noni dari Peace and Conflict Journalism Network menjelaskan bahwa belakangan ini banyak muncul media industri  yang membuat para jurnalis melupakan kode etik jurnalistik. Mereka hanya berpikir tentang keuntungan dan rating dari berita yang disampaikan dengan mengindahkan keakuratan dari berita tersebut. “Para jurnalis sampai lupa bagaimana cara mengemas berita berdasarkan fakta-fakta yang ada sehingga menimbulkan kegelisahan orang yang menkonsumsi media selain itu wartawan juga saat ini sudah tidak lagi menerapkan standar jurnalistik hingga menyebabkan opini publik yang mengawang,” jelasnya. (Ibda/Sakti)

Sharing is caring!