BEM dan DPM UMY Dituntut Miliki Manajemen Skill

September 1, 2016 oleh : BHP UMY

IMG_9929

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) serta Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) periode 2016-2017 resmi dilantik dengan dipimpin langsung oleh Rektor UMY, Prof. Bambang Cipto., MA pada Rabu, (31/08) di Gedung AR Fachruddin B lantai 5. Dalam sambutannya, Prof. Bambang mengatakan bahwa menjadi dewan perwakilan mahasiswa memiliki posisi yang penting dan besar manfaatnya untuk memperdalam softskill. Oleh sebab itu dalam masa jabatan selama setahun periode, rektor UMY menuntut bagi seluruh pengurus agar mempergunakan waktu tersebut dengan sebaik-baiknya untuk memperkuat softskill.

“Kalian punya posisi yang sangat penting. Menjadi dewan perwakilan mahasiswa merupakan hal yang luar biasa, dan menjadi modal untuk menambah skill. Dan tolong posisi sebagai perwakilan mahasiswa ini dapat dimanfaatkan dengan baik. Amanah yang diberikan ini harus digenggam dengan kuat. Adanya softskill selama menjabat, merupakan suatu manajemen skill yang belum tentu dimiliki oleh setiap mahasiswa,” papar Prof. Bambang.

Prof. Bambang melanjutkan, untuk memperoleh softskill tersebut konsepnya harus menjaga amanah yang diberikan oleh pihak kampus. Amanah inilah yang nantinya jika dilakukan dengan baik, akan menjadi contoh bagi generasi selanjutnya. Softskill juga akan bermanfaat untuk kedepannya dan sangat berpengaruh ketika akan terjun di dunia kerja. “Saya yakin menjadi anggota elit mahasiswa itu besar manfaatnya. Anda beruntung mendapatkan itu, karena akan memimpin 10 ribu mahasiswa. Maka dari itu, untuk memimpin harus tegas dan terhormat,” tandasnya.

Rektor UMY yang sekaligus guru besar prodi Hubungan Internasional tersebut memberikan contoh bahwa mantan menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan merupakan mantan aktivis mahasiswa Universitas Gadjah Mada. Rektor berharap, setelah dinobatkan sebagai dewan perwakilan mahasiswa dapat belajar memperkuat softskill untuk bekal kedepan. “Anies Baswedan dulu merupakan ketua senat mahasiswa UGM. Dari pengalaman ini akan menjadi bekal apabila Anda sebagai dewan perwakilan mahasiswa ini dapat bekerja dengan baik, bekerja dengan keras, inovatif dan berjangkau ke depan, saya yakin ke depan anda bisa menjadi orang hebat, bahkan hingga bisa menjadi seorang menteri,” harapnya.

Pernyataan Prof. Bambang tersebut senada dengan ungkapan Wakil Rektor III, Sri Atmaja P. Rosyidi, ST., Msc. Eng, Ph.D. Dalam sambutannya, Sri mengatakan bahwa menjadi aktivis mahasiswa memiliki nilai tambahan. Dengan berbagai aktivitas sebagai aktivis mahasiswa, dapat meningkatkan kemampuan softskill. Terlebih mahasiswa juga akan terbiasa menghadapi berbagai sifat manusia dan akan terlatih untuk berbicara di depan banyak orang. “Sesuai arahan dari pak rektor, manjadi aktivis disebut sebagai mahasiswa plus. Dan tentunya akan menambah kemampuan softskill. Anda tidak perlu lagi takut menghadapi puluhan orang, dan tidak akan demam panggung. Ini karena anda dilatih berpikir secara cepat, bertindak secara tepat, bekerja secara nyata. Jangan lupa berbuat yang benar dan bertindak ikhlas,” terang Sri.

Sri kembali memaparkan, terdapat tiga slogan yang menjadi kunci dalam berorganisasi seperti yang pernah disampaikan oleh mantan rektor UMY, almarhum Ir. H.M. Dasron Hamid, M.Sc. Ketiga slogan tersebut diantaranya yaitu kerja keras, kerjasama, serta kerja ikhlas. “Hal utama dalam organisasi yaitu kerja keras. Tanggungjawab kita adalah bertindak yang terbaik, bukan memikirkan hasil akhir. Hasil akhir Allah yang menentukan, bukan kita. Penyakit mahasiswa kebanyakan adalah kurangnya bekerja secara totalitas, sehingga pekerjaan tidak bisa optimal,” ujarnya.

Sri melanjutkan, dalam suatu organisasi juga diperlukan kerjasama yang solid. Tanpa kerjasama organisasi tidak dapat berjalan dengan baik. Presiden maupun menteri mahasiswa harus menjadi leader untuk mengarahkan kepada anggotanya agar tetap dalam satu tujuan. “bekerjasama dalam satu team tentunya dihadapi berbagai macam background yang berbeda-beda. Komunikasi yang efektif, santun, serta menggunakan pola pikir dan strategi dalam berdialog sangat diperlukan. Selain itu juga hal yang sangat penting yaitu kerja iklhas. Apa yang dilakukan harus semata-mata untuk tujuan kebaikan. Bekerja semata-mata hanya untuk Allah. Hanya dengan ikhlas akan mendatangkan spirit yang luar biasa,” jelas Sri.

“Silahkan kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas. Tantangan terbesar kita yaitu banyaknya krisis moral. Mahasiswa menjadi dasar untuk mencetak moral yang bermartabat di tengah krisis moral saat ini,” tutup Sri. (hv)