Awal Pengabdian Di Negeri Para Raja

September 10, 2018 oleh : BHP UMY

Bukan lautan hanya kolam susu, kail dan jala cukup menghidupimu. Tiada badai tiada topan kau temui,ikan dan udang menghampiri dirimu. Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman.

Penggalan lagu diatas sangat cocok untuk mengggambarkan betapa indah dan kaya alam yang Indonesia miliki. Lagu yang memiliki judul Kolam Susu dipopulerkan oleh Yon Koeswoyo dan kolega dalam band legendaris Koes Plus menjelaskan bahwa Indonesia memiliki tanah subur yang luas sebagai lahan untuk bercocok tananam dan juga tidak melupakan bahwa negeri ini memiliki kekayaan bahari yang sangat melimpah. Namun, segala potensi kekayaan alam Indonesia baik agraris mau pun bahari menjadi terbengkalai dan terbuang percuma. Hal ini dikarenakan kurangnya kemampuan masyarakat lokal untuk mengelola segala potensi yang ada. Selain itu tidak ada penyuluhan secara berkala dari lembaga yang mumpuni di bidang itu.

Kejadian seperti yang dipaparkan di atas juga terjadi di salah satu provinsi yang ada di timur Indonesia, yaitu Maluku Utara. Provinsi yang terbentuk pada 9 Oktober 1999 ini memiliki luas wilayah seluas 31.982 km2 memiliki 1.474 pulau, namun yang dihuni hanya berjumlah 89 pulau dan 1.385 pulau sisanya tak berpenghuni dan hanya menjadi persinggahan bagi nelayan sekitar ketika melaut. Maluku Utara atau biasa disebut Malut memiliki pesona alam yang sangat memukau, hal ini dikarenakan kondisi geografis wilayah itu terdiri dari hamparan perbukitan dan laut yang langsung menuju Samudra Pasifik di ujung utara. Tetapi, potensi melimpah itu kurang diberdayakan oleh masyarakat sekitar karena kurangnya ilmu untuk mengelola alam.

Melihat kondisi yang seperti itu, Universitas Mahammadiyah Yogyakarta (UMY) melalui Lembaga Penelitian, Publikasi & Pengabdian Masyarakat (LP3M) bertekad untuk melakukan pemberdayaan dan pendampingan terhadap masyarakat di beberapa daerah di Maluku utara. Dr. Ir. Gatot Supangat, MP menyampaikan bahwa UMY akan kembali melakukan pengabdian di daerah yang masuk dalam kategori Terluar, Terdepan, dan Tertinggal atau yang dikenal dengan 3T. “Kami (UMY) sebagai Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) harus menjalankan Catur Dharma yaitu Pengembangan Ilmu pengetahuan, Penelitian, Pengabdian masyarakat, dan Al – Islam dan Kemuhammadiyahan. Untuk itu, UMY akan kembali melakukan dakwah Islam sembari melakukan pemberdayaan masyarakat di beberapa daerah yang ada di Maluku Utara, seperti yang sudah dilakukan di Sorong, Pulau Sebatik, Sembalun, Berau, Sumbawa, Manggarai Timur dan Amanuban,” ujar Gatot.

Guna memperoleh hasil yang sesuai dengan harapan, LP3M UMY menjalin kerjasama dengan beberapa pihak untuk mulai melakukan langkah pertama dalam mengumpulkan data yang diperlukan di tanah Malut. Maka, UMY bersama dengan Universitas Muhammadiyah Maluku Utara, Rumah Sakit Nur Hidayah Kabupaten Bantul, dan Yayasan Al-Furqon memulai kegiatan yang bertajuk “Ukhwah Pengabdian Bersama Membangun Indonesia” yang dilaksanakan pada tanggal 21 sampai 25 Agustus 2018. Tepat pada tanggal 20 Agustus 2018 tim dari LP3M UMY, RS. Nur Hidayah, dan Yayasan Al-Furqan yang berjumlah sekitar 30 orang bertolak dari Jogjakarta untuk menuju Kota Ternate. Perjalan ini dipimpin oleh Dr. Ir. Gatot Supangat MP., Dr. Nawari Ismail, M.Ag, Drs. Muhamad Kusnendar M.Pd dan Alfiyah Asas, dari LP3M UMY dan dr. Sagiran, Sp.B., M.Kes dari RS. Nur Hidayah yang juga menjadi dosen di Fakultas Kedoteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) UMY.

Setibanya di kota yang sempat menjadi Ibu Kota Malut, yaitu Kota Ternate, seluruh tim langsung menuju Masjid Muhajirin yang berada di tepi pantai Falajawa untuk melakukan kegiatan yang pertama, yaitu khittan masal. Selepas kegitan itu, rombongan dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama terdiri dari LP3M UMY dan UMMU untuk melakukan diskusi guna merencanakan proses pencarian data dan fakta masyarakat Malut. Sedangkan kelompok kedua terdiri dari tim medis yang berasal dari RS Nur Hidayah dan Yayasan Al-Furqon yang dipimpin oleh dr. Sagiran untuk melakukan sunatan masal di berbagai daerah pelosok yang ada di Malut.

Observasi UMY di Maluku Utara

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta memang memiliki tekad untuk melakukan dakwah Islam di berbagai derah yang memiliki permasalahan sosial, ekonomi, pendidikan serta agama sebagai bentuk pengabdian terhadap bangsa. Agar mengetahui lokasi dan permasalahan serta kebutuhan masyarakat secara tepat, maka dibutuhkan riset mendalam agar tindakan yang diambil tepat sasaran. Maka pada tanggal 21 Agustus 2018 selepas menghadiri pembukaan sunatan masal di Masjid Muhajirin Kota Ternate, tim LP3M UMY berdiskusi dengan rektor Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU) Dr. Saiful Deni, M.Si di Kampus terpadu UMMU. Pada pertemuan itu, Saiful menyampaikan apresiasi dan sangat mendukung atas program yang digalakkan oleh UMY. Dia pun berkomitmen untuk turut menyukseskan semua langkah yang dilakukan oleh Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) asal Jogjakarta ini. “Kami sangat antusias ketika mendengar kabar bahwa UMY ingin melakukan kegiatan di sini. Kegiatan yang dilakukan pun sepertinya sangat bermanfat bagi masyarakat di provinsi kami. Untuk itu, kami akan mendukung dan membantu semaksimal mungkin semua hal yang dibutuhkan oleh UMY,” tandasnya.

Setelah berdiskusi mengenai permasalahan dan keadaan sosial warga Maluku Utara, akhirnya UMY dan UMMU sepakat untuk melakukan observasi mendalam terhadap dua daerah yaitu Kabupaten Halmahera Utara yang berada di pulau Halmahera dan Kecamatan Pulau Hiri yang menjadi bagian dari Kota Ternate. Alasan kenapa Kecamatan Pulau Hiri diambil karena daerah tersebut mengalami kesulitan secara ekonomi. Padahal pulau itu memiliki potensi kekayaan alam berupa laut dan perkebunan yang melimpah. Sedangkan Kabupaten Halmahera Utara pernah menjadi pusat konflik antar agama hampir dua dekade silam. Atas dasar itu UMY dan UMMU bertekad melakukan pendampingan dan pengabdian di dua daerah tersebut.

Perjalanan berikutnya dilanjukan pada tanggal 22 Agustus 2018. Kelompok LP3M UMY bersama dengan salah satu dosen UMMU Rosmilla Tuhaera, S.KM., M.Kes pergi ke Kecamatan Tobelo yang berada di Halmahera Utara untuk bertemu dengan tokoh Islam setempat dan perwakilan dari Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Galela.

Setelah menempuh 4 jam perjalanan dari pelabuhan Sofifi, tim UMY dan UMMU akhirnya tiba di kediaman Hj. Rajiah yang menjadi ketua komunitas mualaf yang bernama Mujahid dan juga didampingi oleh Rahman Saha yang menjadi Wakil Sekertaris PCM Galela. Di sana mereka berdiskusi dan saling menyampaikan pendapat satu sama lain, diantaranya adalah Hj. Rajiah yang menuturkan bahwa sangat dibutuhkannya perhatian dari lembaga – lembaga yang berlatar belakang Islam untuk melakukan pendampingan secara intensif terhadap masyarakat Kecamatan Tobelo. “Melihat banyak sekali anak – anak gadis di daerah sini yang hamil sebelum menikah dan juga ada banyak orang muslim yang pindah kepercayaan karena masalah ekonomi membuat kami sedih. Untuk itu kami sangat membutuhkan perhatian dari organisasi Islam yang berperan aktif dalam menanamkan nilai – nilai Islam di daerah kami,” tutur Rajiah.

Kemudian Rahman pun menambahkan dalam sektor pendidikan Islam, Kabupaten Halmahera Utara sangatlah kurang. “Anak yang sudah lulus Sekolah Menengah Atas (SMA) banyak yang kesusahan untuk melanjutkan ke bangku kuliah. Karena kampus negeri dan kampus Islam tidak ada di pulau kami, padahal pulau Halmahera adalah yang terluas di Provinsi Maluku Utara,” ujarnya.

Mendengar keluhan tersebut, Gatot yang juga menjabat sebagai Sekertaris Majelis Lingkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah berkomitmen akan melakukan diskusi dengan Lazizmu Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk menangapi permasalahan yang ada di daerah Halmahera Utara. Selain itu, Gatot pun mengatakan akan melakukan pendampingan dan pemberdayaan terhadap salah satu suku terasing yang ada di Pulau Halmahera, yaitu Suku Toguti. Hal ini dikarenakan suku Toguti sama sekali tidak bisa mengunakan bahasa Indonesia. Selain itu juga, karena mereka tinggal di pedalaman hutan Galela, mereka tidak terdaftar sebagai warga negara dan juga meraka tidak beragama. Untuk mencapai ke pemukiman suku Toguti, dibutuhkan 7 hari perjalanan dengan jalan kaki, mengingat sulitnya medan yang dilalui.

Keesokan harinnya, pada tanggal 23 Agustus 2018 kelompok yang dipimpin oleh Gatot bertolak ke Kecamatan Pulau Hiri. Jarak yang ditempuh cukup singkat, hanya sekitar 40 menit menggunakan kapal motor. Sesampainya di pulau Hiri, robongan langsung menuju Balai Desa Tugolobe untuk berdiskusi dengan warga dari 4 kelurahan yang ada di pulau itu. Setelah berdiskusi dengan warga, akhirnya diketahui bahwa pulau Hiri mengalami permasalahan di bidang perkebunan. Hal ini disampaikan oleh salah satu warga di sana bernama Faudu. Ia mengatakan bahwa warga Hiri merasa kebingungan dalam memasarkan serta mengolah hasil panen seperti palawija, cengkeh, dan juga singkong. “Di sini tidak ada kelompok tani yang bisa menjadi wadah kami untuk berdiskusi mengenai harga hasil kebun. Ketika sudah panen, yang kami lakukan hanya menjual ke tengkulak yang ada di Kota Ternate. Selain itu kami juga kebingunan untuk mengolah tanah untuk dijadikan kebun singkong. Padahal kami bisa mengolah berbagai produk dari hasil bumi itu,” ujar Faudu.

Pulau Hiri merupakan salah satu daerah yang memiliki potensi alam yang sangat melimpah di Maluku Utara. Hamparan laut yang biru dan bibir pantai yang cadas dapat menjadi anugerah tersendiri untuk para pelancong lokal maupun asing yang datang ke pulau ini. Rosmilla yang menjadi tenaga pengajar di UMMU juga menyayangkan apabila menyia – nyiakan potensi kekayaan alam yang ada di Pulau Hiri. Untuk itu, UMMU akan berkolaborasi dengan UMY untuk memberikan program agar masalah yang ada di pulau itu terselesaikan.

Setelah melakukan observasi di dua tempat, pada tanggal 26 Agustus 2018, tim UMY kembali ke Jogjakarta untuk membahas kelanjutan dari kegiatan ini. Gatot sebagai Kepala LP3M menegaskan bahwa UMY akan mengirim tim untuk melakukan pengabdian di daerah itu, baik dosen atau pun mahasiswa dalam program Kuliah Keja Nyata (KKN) 3T. hal ini didasari oleh potensi alam yang melimpah akan tetapi kurangnya sumber daya manusia untuk mengelola karena dalam data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistika (BPS), Provinsi Malut menempati urutan ke – 27 dari 34 provinsi dalam Indeks Pembangunan Manusia (IPM) pada tahun 2017. Selain itu persoaalan keagamaan dan sosial di Halmahera Utara menjadi poin utama yang akan menjadi lahan dakwah bagi UMY. (ak)