Asosiasi Pengkaji Film Indonesia Gelar Konferensi Film Pertama

Agustus 29, 2017 oleh : BHP UMY

Film adalah media komunikasi yang bersifat audio visual untuk menyampaikan suatu pesan. Bidang perfilman di Indonesia merupakan sebuah hal yang tidak bisa dianggap remeh. Banyak film-film hebat yang sudah dibuat oleh anak anak bangsa dan mengguncang dunia. Karena itulah Asosiasi Pengkaji Film Indonesia (Kafein) bekerjasama dengan Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (IK UMY) untuk pertama kalinya menggelar Konferensi Film Indonesia dan Rapat Paripurna 1. Acara tersebut diselenggarakan selama 3 hari sejak Selasa (28/8) hingga Kamis (31/8) dan bertempat di Amphitheater Gedung KH Ibrahim lantai 5 Kampus Terpadu UMY.

Dalam pembukaan konferensi tersebut pada Selasa (28/8), Dr. Seno Gumira Ajidarma, S.Sn., M.Hum selaku pembicara mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan sebuah peristiwa penting, bukan sekedar karena konferensi pertama dari sebuah organisasi baru, melainkan karena merupakan konferensi pertama sebuah asosiasi pengkaji film. “Bukan saja bidang ilmunya, ini adalah hal baru. Karena merupakan sebuah kajian film yang bukan seperti kritik, tapi lebih kepada penelitian film,” ujarnya.

Rektor Institut Kesenian Jakarta (IKJ) ini juga mengatakan terdapat perbedaan antara pengkaji dan kritikus. Kritikus seringkali diposisikan sebagai orang yang mengerti segalanya. Karena tugasnya setelah mempertimbangkan adalah menentukan baik buruk sebuah film. Walaupun begitu, keberadaan kritikus film merupakan bagian penting dalam sosialisasi film. “Kritikus film itu ada agar dapat hadir sebagai bagian dari wacana sosial budaya secara proporsional. Ia ada untuk mengimbangi mesin promosi yang penuh selubung manipulasi, maupun mendekatkan jarak ketika sebuah film menghadirkan bahasa visual baru yang belum dikenal. Berbeda dengan pengkaji yang memiliki arti menyelidiki, mempelajari, dan menguji, sehingga pengkaji diposisikan lebih rendah hati. Karena jika masih mempelajari, memeriksa, menyelidiki, menguji dan menelaah tentunya belum ahli dong,” jelas Seno.

Selain itu, Seno juga menyampaikan pentingnya literasi media bagi masyarakat. Karena saat ini banyak orang sering tidak sadar tentang media. “Semua usia saat ini sudah sangat sering melihat media. Bukan berarti dilarang menonton namun lebih baik jika mengerti tentang apa yang ditonton. Maka dari itu perlu dilakukan berbagai penelitian guna memperbaiki hal tersebut dan ini merupakan sebuah langkah strategis yang penting. Peneliti selaku manusianya juga perlu memperbanyak kajian tentang bagaimana metode-metode yang seharusnya digunakan dalam meneliti sebuah film melalui berbagai diskusi dan referensi atau sejarah, sehingga kritik yang dikeluarkan tidak hanya mengkritik dengan naluri,” paparnya.

Seno juga berharap agar seluruh masyarakat bisa melakukan literasi media. Karena sesungguhnya yang sedang disaksikan merupakan pesan yang diulang-ulang. “Masyarakat baiknya tidak dengan segera membuat kesimpulan, walaupun suka. Karena suka adalah faktor personal, dan itu hanya pandangan objektif dari orang yang menonton, ” tambah Seno. (zaki)

Sharing is caring!