Alami Berbagai Kendala, STMIK Mitra Lampung tetap Optimis

Juli 11, 2018 oleh : BHP UMY

Kontes Robot Seni Tari Indonesia (KRSTI) kembali diadakan dalam Kontes Robot Indonesia Nasional 2018 di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang dimulai pada Kamis (12/7) hingga Jumat (13/7). Berbagai universitas dari seluruh Indonesia turut menjadi peserta dalam KRI Nasional 2018 termasuk salah satunya Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer Mitra Lampung (STMIK Mitra Lampung). STMIK Mitra Lampung sendiri adalah salah satu peserta dari regional satu yang berhasil membawa timnya hingga tingkat nasional kategori KRSTI.

“Kami sangat bersyukur bisa berada di sini untuk mengikuti KRI Nasional 2018. Karena ini merupakan pengalaman pertama bagi universitas STMIK Mitra Lampung mengikuti KRI dan Alhamdulillah bisa sampai tingkat Nasional,” ungkap Yogi Andeswari salah satu peserta dari STMIK Mitra Lampung.

Untuk bisa sampai pada tahap ini bukan sebuah hal yang mudah bagi tim yang bernama Robogen ini. Yogi menerangkan bahwa dengan persiapan singkat selama lima bulan, timnya harus membuat robot KRSTI secara sempurna. Berbagai kendala seperti membuat otak robot yang harus diubah sebanyak tiga kali hingga memasangkan pakaian untuk penari robotnya menjadi tantangan tersendiri bagi tim ini. Tidak sampai di situ, kendala lainnya seperti yang terjadi pada running test ke dua pun turut menjadi kendala bagi tim Robogen. “Pada running test dua, tim kami memang sempat mengalami kendala teknis, kesalahan koneksi dan belum sempat diubah programnya sehingga robot tidak mau bergerak,” ungkapnya.

Bagi tim Robogen sendiri kendala yang sudah dialami selama ini tidak akan menghalangi semangat mereka dalam bertanding. “Kami percaya dengan persiapan yang sudah kami siapkan sampai saat ini dan arahan dari pembimbing yang selalu kami ikuti, InsyaAllah kami tetap optimis,” imbuh Yogi lagi.

Agenda running test memang membuka kesempatan bagi seluruh tim untuk menguji robotnya dalam arena pertandingan, berbagai kesalahan masih memungkinkan terjadi pada running test. “Dalam running test memang masih banyak terjadi kesalahan, seperti robot yang terjatuh di tengah pertandingan atau robot yang tidak mau berhenti bergerak ketika musik tidak berbunyi,” ungkap Ilham Egi Anshori selaku LO Teknis KRSTI. (ns)