Agama dan Pancasila Sama Sekali Tidak Bertentangan

Mei 24, 2016 oleh : BHP UMY

farnz, chamamah, amin

Agama dan Pancasila merupakan dua hal yang melekat dalam nilai kultur masyarakat Indonesia. Kedua hal itu merupakan dua hal yang sama sekali tidak bertentangan karena nilai-nilai agama diejawantahkan dalam sisa-sila Pancasila.

Hal itu merupakan poin penting yang disampaikan dalam sesi paralel Konvensi Nasional Indonesia Berkemajuan (KNIB) di Ruang Sidang Gedung Kasman Singodimedjo Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Selasa pagi (24/5). Sesi tersebut dihadiri oleh empat tokoh nasional seperti rohaniawan Katolik Frans Magnis Suseno, Prof. Dr. Amin Abdullah, Prof. Dr. Chamamah Soeratno, dan Prof. Dr. Syafiq Mughni. Sesi tersebut membahas tema “Budaya Berkemajuan: Revitalisasi Karakter: Aktualisasi Agama dan Pancasila dalam Identitas Keindonesiaan”.

Cendekiawan muslim Prof. Dr. Amin Abdullah, dalam paparannya menyatakan bahwa pemikiran politik keislaman di Indonesia penting untuk terus dikembangkan agar agama dan pancasila dapat berjalan berbarengan untuk menangkal pergolakan seperti fenomena Arab Spring yang melanda negara-negara Timur Tengah. Di samping itu ia juga menyatakan bahwa Islam di Indonesia memiliki korelasi kultural dengan pancasila yang membuat pemikiran politik keislaman di Indonesia lebih mudah diterapkan.

“Pemikiran politik keislaman sangat sulit dikembangkan di negara Timur Tengah. Indonesia dengan Pancasila dapat mengembangkan pemikiran tersebut lebih mudah melihat kultur di Indonesia. Pemikiran tersebut penting untuk menangkal Arab Spring masuk ke Indonesia. Tantangannya sekarang adalah kompleksitas antara agama dan pluralitas di Indonesia,” tutur Amin Abdullah.

Ditegaskan oleh paparan Romo Magnis, ia memaparkan bahwa Islam tidak bisa lepas dari kebangkitan nasional, hal yang digarisbawahi dari kebangkitan Islam itu pula, menurut Romo Magnis merupakan sumbangan yang luar biasa ketika para tokoh Islam tidak mengkhususkan posisi Islam dalam konstitusi dan dasar negara. “Kebangkitan Islam adalah bagian dari kebangkitan nasional dengan adanya Budi Oetomo, Serikat Indonesia, dan Muhammadiyah. Hebatnya mereka tidak mengkhususkan posisi Islam dalam ideologi dan dasar negara. Itu merupakan sumbangan yang luar biasa,” ungkap Romo Magnis.

Lebih lanjut ia membandingkan antara Indonesia tahun 1998 dan Mesir tahun 2010 yang sama-sama mengalami democratic spring. Mesir gagal menjalankan demokrasi, Indonesia berhasil menjalankan demokrasi beringingan dengan Islam lewat tokoh-tokoh Islam seperti B.J. Habibi, Amin Rais, dan Gus Dur.

Sementara itu pemapar ketiga, Prof. Syafiq A. Mughni, memaparkan bahwa agama dan Pancasila adalah dua hal yang sama sekali tidak bertentangan. “Agama dan Pancasila sama sekali tidak bertentangan dan nilai agama diejawantahkan dalam pancasila di mana sila-sila yang ada itu sebetulnya nilai agama yang mendasari, Muhammadiyah komitmen terhadap kedua hal itu,” terang Syafiq Mughni.

Di samping itu Syafiq Mughni menyoroti pragmatisme yang kian merajalela dalam masyarakat yang mengesampingkan idealisme. Hal itu jelas bertentangan dengan nilai-nilai agama maupun Pancasila. “Pragmatisme merajalela dalam diri bangsa kita, tidak lagi pada idealisme, semua jalan ditempuh demi keuntungan pribadi, bangsa kita sering berorientasi pada kuantitas. Bangga dengan jumlah, tapi agama hanya simbol dan jargon,” tambah Syafiq.
(suf)