Jelang AEC 2015, Dokter Indonesia Harus Lebih Unggul dan Profesional

Januari 19, 2015 oleh : BHP UMY
Dokter Baru UMY, saat membacakan ikrar sumpah saat pelantikan dan sumpah dokter di Sportorium UMY

Dokter Baru UMY, saat membacakan ikrar sumpah saat pelantikan dan sumpah dokter di Sportorium UMY

Asean Economic Community (AEC) 2015, bukan hanya menjadi peluang bagi orang-orang yang bekerja di  bidang wiraswasta, tapi juga bagi mereka yang berprofesi sebagai dokter. AEC 2015 ini akan menjadi peluang bagi masuknya dokter-dokter asing ke Indonesia, sehingga dokter di Indonesia pun dituntut untuk mampu menjadi lebih unggul dan bisa membangun hubungan yang baik dengan pasien. Selain itu, dokter di Indonesia juga harus bisa lebih profesional, sebab hingga kini masih ada penilaian jika dokter Indonesia masih belum sepenuhnya professional. Hal tersebut dinilai karena adanya jarak yang jauh sekali antara dokter dan pasien.

Itulah yang disampaikan Prof. Dr. Bambang Cipto, M.A, Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) saat menyampaikan sambutannya pada acara Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Dokter angkatan 43, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) UMY.  Sumpah Dokter yang diikuti oleh 90 calon dokter ini bertempat di Sportorium UMY, Sabtu (17/01).

“Anda harus unggul dan professional , karena kita akan masuk Asean Ekonomi Community (AEC) dan yang jadi dokter di sini bukan hanya kita tapi juga dokter-dokter asing. Saya juga banyak baca di media bahwa dokter-dokter di Indonesia itu belum sepenuhnya profesional karena merasa dirinya sebagai dokter dan bangga dengan statusnya. Jarak antara dokter dengan pasien sangat jauh sekali, yang kadang-kadang senyum saja susah terhadap pasien itu, berbeda dengan para dokter di tetangga kita misalnya di Thailand. Semoga Anda bisa menjadi dokter yang unggul dan bisa membangun hubungan yang baik dengan pasien.” ujarnya

lebih lanjut, Bambang menambahkan bahwa Thailand dikenal sebagai salah satu negara yang paling baik dalam pengembangan medical turism, karena lebih menghargai pasien, sehingga Thailand diminati oleh pasien dari negara lain. Oleh karena itu, dokter Indonesia juga harus mempelajari etika berhubungan dengan pasien, dan juga mempelajari bahasa asing untuk menunjang kualitas dokter di masa mendatang. karena menurut Bambang, Indonesia juga berpeluang untuk menjadi salah satu medical turism yang akan dikembangkan oleh pemerintah di masa mendatang.

“Sekarang Thailand dikenal sebagai satu-satunya negara yang paling baik dalam hal pengembangan medical turism. Karena mereka menghargai pasien, sehingga peminat dari negara lain itu banyak. Oleh sebab itulah, selain mempelajari etika berhubungan dengan pasien, dokter-dokter Indonesia juga harus mempelajari bahasa inggris atau bahasa asing lainya, siapa tahu Indonesia juga menjadi salah satu medical turism yang akan dikembangkan oleh pemerintah,” paparnya.

Sementara itu, berbeda dengan Bambang, Dekan FKIK UMY dr. H. Ardi Pramono, Sp.An., M.Kes mengungkapkan bahwa seorang dokter selain mengobati pasien juga bertanggung jawab menjaga kesehatan pasien sebelum sakit. Sehingga dokter dituntut untuk mampu memberikan tindakan pencegahan sebelum sakit, dan tindakan setelah sakit. Hal tersebut merupakan tugas para dokter.

“Seandainya ada masyarakat yang berobat, semestinya ada rasa bersalah kenapa saya tidak bisa menyehatkan masyarakat saya. Sehingga dokter dituntut untuk bisa memberi preventif dan promotiv, mungkin nanti kalau membuka klinik pratama atau di rumah sakit, mungkin bisa membuka juga fitness center, pusat obesitas, kemudian juga ada pusat kebugaran, dan mungkin juga ada club pengidap kolesterol. Sehingga masyarakat yang tadinya akan berobat karena sakit, bisa dicegah agar tidak sakit. Ini adalah tugas dari kita semua sebagai dokter. Paradigma sekarang sudah berubah sehingga menciptakan masyarakat yang sehat bukan hanya mengobati masyarakat yang sakit tapi juga menciptakan masyarakat yang sehat,” jelasnya. (Shidqi)